Bantul

IKM di Bantul Kesulitan Bahan Baku Gula Rafinasi

IKM di kawasan Bantul dan sejumlah wilayah lain di DIY mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku gula industri atau rafinasi.

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Produk gula jawa dan gula batu yang diproduksi menggunakan gula rafinasi. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Industri Kecil Menengah (IKM) di kawasan Bantul dan sejumlah wilayah lain di DIY mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku gula industri atau rafinasi. 

Hal ini mengakibatkan proses produksi usahanya terganggu. 

Catur Wahyu, Produsen Gula Batu di kawasan Sewon Bantul mengaku kelangkaan bahan baku gula rafinasi ini sudah terjadi sejak pertengahan Desember 2019 lalu. 

"Kita terpaksa produksi seadanya. Ada yang mengganti dengan gula konsumsi padahal harganya tinggi, otomatis harga jual jadi naik, kasihan konsumen," papar Catur di sela pertemuan pengusaha industri berbahan baku gula industri/rafinasi di Yogyakarta, Sabtu (22/2/2020).

Cegah Penyalahgunaan, Disperindag Sleman Data Industri dan Distributor Gula Rafinasi

Ia menyebutkan, tak hanya harga jual yang naik, kelangkaan bahan baku gula rafinasi ini juga membuat pengusaha terutama IKM memangkas karyawan hingga menghentikan sejenak operasional usahanya. 

"Kawan-kawan (IKM) ini ada juga yang sampai berhenti produksi karena tidak dapat jatah gula rafinasi. Padahal ada puluhan karyawan yang bekerja di situ, kita mau hidup dari mana," tambah pria yang mengaku produksinya membutuhkan sekira 7-8 ton gula rafinasi setiap harinya ini.

Terkait dampak tersebut, Catur menuturkan, tak hanya dirasakan oleh IKM di DIY saja melainkan sejumlah industri kecil di provinsi lain. 

"Rekan kami yang produksi dodol di Garut, Ciamis banyak yang berhenti, produsen gula jawa di Malang dan Jawa Tengah juga banyak yang mengurangi produksi bahkan berhenti," paparnya.

Super Gampang! Tutorial Make Up Khusus untuk Musim Hujan

Disebutkan, hal ini diperparah lantaran beberapa bulan ke depan akan memasuki masa puasa dan lebaran.

Padahal momen tersebut, kata Catur, permintaan konsumen sangat tinggi.

Tentu hal ini berdampak pada berkurangnya pemasukan dan profit IKM tersebut. 

Sementara itu, Supriyanto Sardjowikarto Ketua Umum Forum Transparansi Gula Nasional (FTGN) dalam keterangannya menuturkan, keluhan para pelaku industri kecil yang membutuhkan bahan baku rafinasi ini sudah banyak ia terima sejak akhir 2019 lalu. 

Daftar Makanan Berkadar Gula Tinggi yang Berbahaya Bagi Penderita Diabetes

Supriyanto menjabarkan kelangkaan gula industri ini lantaran pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan terlambat  meneken izin impor gula untuk industri.

Padahal kata dia banyak pelaku IKM yang membutuhkan gula rafinasi tersebut. 

Hal ini, dikatakan Supriyanto, tak sejalan dengan semangat pemerintah dalam mendukung berkembangnya usaha mikro,  kecil dan menengah yang sering digaungkan. 

"Tentu asosiasi mempertanyakan keberpihakan pemerintah terhadap pelaku usaha kecil menengah karena kelangkaan raw sugar ini berbuntut panjang. Banyak pelaku usaha kecil yang membutuhkan gula rafinasi tersebut," katanya.  (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved