Yogyakarta
BMKG Segera Tuntaskan Peralatan Mitigasi Bencana YIA
Saat ini di YIA telah terpasang windshear dan Automated Weather Observing System yang telah beroperasi untuk menunjang keselamatan penerbangan.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pada akhir Maret 2020, Yogyakarta Internasional Airport (YIA) akan beroperasi secara penuh.
Hal tersebut membuat BMKG pusat melakukan peninjauan untuk mempersiapkan YIA dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami, belum lama ini.
Berdasarkan keterangan tertulisnya, PTS General Manager YIA, Agus Pandu Purnama menjelaskan, ketika terjadi gempa bumi dan alarm waspada tsunami berbunyi, pintu-pintu di samping gedung akan dibuka supaya warga sekitar dapat segera naik ke Crisis Center.
"Crisis Center juga dilengkapi dengan ramp untuk mempermudah akses naik bagi warga sekitar, terutama bagi penyandang disabilitas," ujarnya, Kamis (13/2/2020).
• Jokowi Puji Kecepatan Penyelesaian YIA
Sejak awal pembangunan, jelasnya, Angkasa Pura I telah membahas risiko bencana gempa bumi dan tsunami dengan para pakar dan akademisi, serta tim ahli dari Jepang.
Selain itu, telah dilakukan beberapa kali Focus Group Discussion yang melibatkan banyak pihak terkait pembangunan bandara serta BMKG untuk membuat simulasi gempa dan tsunami di bandara baru tersebut.
"Mitigasi gempa yang dilakukan yaitu dengan implementasi dalam desain struktur bangunan serta desain konstruksi dan signage didesain sedemikian rupa aman dari dampak gempa," ucapnya.
Konsep gedung terminalnya adalah green building dan dirancang tahan gempa dan tsunami sehingga keamanan penumpang terjaga melalui berbagai prosedur penyelamatan.
"Fasilitas utilitas kelistrikan seperti trafo dan genset lebih banyak diletakkan di lantai 2 dengan ketinggian 15 meter dari permukaan laut sehingga siap untuk pemulihan operasi bandara pasca tsunami, sekaligus pada lantai 3 dengan ketinggian bangunan 21 meter sebagai area evakuasi sementara," ucapnya.
• Super Gampang! Tutorial Make Up Khusus untuk Musim Hujan
Kepala BMKG Indonesia, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa BMKG telah terlibat sejak awal pembangunan YIA, terutama dalam memperhitungkan potensi gempa bumi dan tsunami serta upaya pengurangan risiko bencananya.
“BMKG akan segera memasang sistem monitoring dan peringatan dini tsunami agar keberlanjutan dan keamanan bandara ini cepat terpantau serta termitigasi dengan baik. Kami telah meninjau lokasi pemasangan alat BMKG, baik titik koordinatnya, ketinggiannya, sehingga nanti seluruh informasi terkait kekuatan hingga potensi dampak gempa bumi dapat terbaca dari layar khusus dan dapat dilakukan langkah pengamanan sebagai upaya antisipasi," terang Dwikorita.
Ia melanjutkan, saat ini di YIA telah terpasang windshear dan Automated Weather Observing System (AWOS) yang telah beroperasi untuk menunjang keselamatan penerbangan di YIA.
Ke depannya, peralatan BMKG yang akan dipasang di YIA yaitu accelorograph, intensimeter, radar tsunami, Earthquake Early Warning System (EEWS), serta peralatan untuk mendeteksi abu vulkanik dari erupsi gunung api yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.
• Disubsidi Pemerintah Pusat, Harga Minibus Damri SCH - YIA Hanya Rp 25 Ribu
Fungsi accelorograph dan intensimeter adalah untuk mengetahui tingkat guncangan akibat gempa bumi sehingga dapat memperkirakan tingkat kerusakan yang akan terjadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pembangunan-capai-90-persen-yia-dipastikan-beroperasi-penuh-di-maret-2020.jpg)