Bantul
Harga Rawit Merah di Bantul Kian 'Pedas,' Pedagang Kuliner Terancam Merugi
Harga cabai kian melambung tinggi. Pantauan di pasar tradisional Bantul harganya menembus Rp 80 ribu perkilogram.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
Namun semenjak harga cabai mahal, Ia mengurangi satu sendok.
Sehingga satu porsi hanya mendapatkan dua sendok untuk sambal.
"Ini cara agar sambal bisa lebih hemat. Kita pedagang kecil juga tidak merugi," ujar dia.
• Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Tradisional Bantul Kian Pedas, Tembus Rp 80 Ribu/kg
Senada apa yang disampaikan Fani, salah satu pedagang makanan, Pardi mengatakan meroketnya harga cabai rawit merah dipasaran sangat berdampak pada usaha Mie Ayam dan Bakso yang digelutinya.
Sambal di warungnya disajikan terpisah. Konsumen mengambil sendiri.
Sehingga agar tidak merugi, ia mengaku harus mengatur strategi.
Caranya, dengan mengeluarkan sambal sedikit sedikit.
"Sambalnya dikeluarkan ke konsumen sedikit-sedikit. Yang penting kita tetap menyediakan sambal. Kalau tidak ada sambal, justru nanti konsumen protes," ucap dia.
• Harga Cabai Melambung, Pemda DIY Sebut Faktor Cuaca dan Hama Jadi Penyebab
Meski harga cabai mahal, Pardi mengaku tetap menjaga kualitas sambal miliknya.
Berbekal cabai 1 kilogram, dirinya tidak mencampur dengan bahan lain.
"Kalau dicampur bahan lain nanti rasanya berubah," kata Pria berusia 40 tahun itu.
Pardi berharap, harga cabai rawit merah bisa kembali turun dan stabil.
Karena jika terus mengalami kenaikan akan sangat berat bagi usahanya.
Terlebih, subsidi melon ada wacana akan dicabut sehingga akan sangat berdampak pada usaha kecilnya.
"Saya berharapnya jangan naik terus. Karena akan sangat berat," tuturnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pedagang-cabai-di-pasar-tradisional-bantul-menunjukan-cabai-yang-kini-harganya-kian-meroket.jpg)