Sleman
Dinkes Sleman Secara Periodik Ambil Serum Warga yang Daerahnya Pernah Terjangkit Antraks
Kasus antraks terakhir adalah di 2003 di mana ada seekor sapi yang mati di Hargobinangun, Pakem, Sleman. Namun kasus tersebut tidak sampai menyerang w
Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pastikan tak ada warga yang terkena antraks.
Kasus antraks terakhir adalah di 2003 di mana ada seekor sapi yang mati di Hargobinangun, Pakem, Sleman. Namun kasus tersebut tidak sampai menyerang warga.
• Lima Ton Formalin Disiapkan untuk Pencegahan Antraks di Gunungkidul
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, Novita Krisnaeni mengatakan, meski antraks sudah tidak ada di Sleman namun pihaknya terus melakukan upaya pencegahan terutama di lokasi yang dulu pernah terjangkit.
"Penyuluhan dan pengambilan serum darah di penduduk sekitar kita lakukan rutin tiap tahun rutin, di pakem," jelasnya, Kamis (16/1/2020).
• Sampel Tanah Positif Mengandung Bakteri Antraks, 64 Warga Semanu Ikut Diberi Antibiotik
Saat itu, sapi yang mati terkena antraks dikubur dengan menggunakan semen beton.
Namun upaya surveilans tetap rutin dilakukan tiap tahun.
Hal itu lantaran sifat spora yang dihasilkan bakteri Bacillus anthracis mampu bertahan hidup hingga 60 tahun.
Maka dari itu, ia pun mengimbau agar masyarakat waspada dan mengetahui gejala yang ditimbulkan.
Kalau antrax mengenai kulit bisa menyebabkan koreng, namun akan berbahaya jika antrax masuk ke dalam tubuh karena akan mematikan.
Gejalanya adalah mual, diare disertai demam.
"Tergantung mana yang terkontak. Biasanya di tangan, kalau kulit jarang menimbulkan kematian, tapi kalau sudah infeksi ke mana-mana itu yang berbahaya," ujarnya.
Maka dari, pihaknya terus bekerjasama dengan lintas sektor untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk mencegah penularan antraks.
Salah satunya dengan mengolah daging dengan cara yang benar.
• Seorang Warga Ponjong Diduga Terkena Antraks
"Masyarakat diimbau untuk memasak dengan matang. Karena itu bisa membunuh spora antraks. Hampir semua bakteri atau spora mati kalau dimasak dengan benar," ujarnya.
Kerjasama lainnya juga dengan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman.
Jika dari dinkes melakukan surveilans ke warga yang daerahnya pernah ada kasus ternak yang mati karena antraks, maka DP3 melakukan monitoring tanah dan kawasan di lokasi yang sama.
Harjanto, Kabid pertenakan dan Kesehatan Hewan dari Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman mengatakan ketika suatu daerah pernah positif terkena antraks, maka tanah di daerah tersebut tidak boleh dimanfaatkan untuk keperluan apapun.
Meski ternak yang mati telah dikubur namun tetap saja ada bahaya sisa bakteri yang akan menjadi spora.
"Bakteri itu ketika terkena udara akan membentuk spora. Spora itu bisa bertahan sampai 60 tahun, karena tahan terhadap lingkungan," ujarnya.
Dari kasus yang ia pelajari, pernah ada riwayat, warga memanfaatkan bekas tanah antraks untuk budidaya tomat.
Yang terjadi adalah bakteri antraks itu masuk ke dalam tomat.
Maka dari itu pihaknya secara periodik melakukan uji petik lokasi yang pernah terjangkit antraks.
Terkhusus dengan kasus antraks yang ada di Gunungkidul, pihaknya mengimbau agar masyarakat tidak mengambil ternak dari Gunungkidul, khususnya di daerah yang terkena antraks.
"Mestinya dinas terkait setempat juga tidak memperbolehkan adanya ternak yang keluar. Yang juga ditingkatkan adalah kewaspadaan dengan mobilitas orang atau kendaraan di sana. Karena tanah yang terpapar antraks bisa berpindah ketika menempel ke ban, misalnya," urainya.
Sementara untuk warga Sleman, ia mengimbau ketika ada ternak mati mendadak untuk langsung melapor ke puskeswan agar bisa segera dilakukan tindakan.(TRIBUNJOGJA.COM)