Sampel Tanah Positif Mengandung Bakteri Antraks, 64 Warga Semanu Ikut Diberi Antibiotik

Sampel Tanah Positif Mengandung Bakteri Antraks, 64 Warga Semanu Ikut Diberi Antibiotik

Sampel Tanah Positif Mengandung Bakteri Antraks, 64 Warga Semanu Ikut Diberi Antibiotik
IST/Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul
Petugas saat melakukan pengecekan terhadap hewan ternak mati mendadak di Karangmojo, Selasa (27/8/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Sampel tanah yang dikirimkan oleh Dinas Kesehatan Gunungkidul ke Balai Besar Veteriner (BBVET) Wates positif mengandung bakteri antraks.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati pada Rabu (13/1/2020).

Menurut Dewi, pihaknya mengirimkan dua sampel ke BBVET Wates yang terdiri dari sampel tanah dari lokasi sapi yang mati serta sampel luka hewan ternak.

Setelah dilakukan uji laboratorium, sampel tanah dipastikan mengandung bakteri antraks.

"Selain Dinas Pertanian yang mengirim sampel tanah kami juga mengirim 2 sampel yaitu sampel tanah dan juga dan juga sampel dari luka. Untuk sampel tanah positif sedangkan luka tidak," katanya.

Sementara itu untuk sampel darah yang sudah dikirim ke BBVET Bogor, menurut Dewi hingga saat ini belum keluar hasilnya.

Dinas Kesehatan sendiri sudah mengirimkan surat ke BBVET Bogor untuk mengkonfirmasi hal itu.

Kenali Gejala Awal Antraks, Segera Berobat Bila Mengalami Beberapa Tanda Ini

Dewi menambahkan, untuk pencegahan agar tidak meluas, Dinas Kesehatan melaksanakan pemberian antibiotik kepada warga di wilayah Semanu.

Dinas memperluas area pemberian antibiotik ke wilayah Semanu karena sedikitnya ada 64 orang yang ikut mengkonsumsi dan melakukan kontak langsung dengan daging sapi yang mati mendadak tersebut.

"Selain 540 orang kemarin ada sebanyak 64 warga yang kami berikan antibiotik karena mereka berkontak dan mengkonsumsi sapi mati yang berada di wilayah Kecamatan Ponjong," kata Dewi.

Lanjut Dewi, ke 64 orang tersebut belum menunjukkan gejala-gejala setelah mengkonsumsi daging.

Namun demikian, dinas tetap melakukan upaya pencegahan dengan memberikan antibiotik.

"Kami meningkatkan kewaspadaan jadi memang penanganannya dengan cara seolah-olah sudah terjadi, kami dinas kesehatan juga telah menyurati fasilitas-fasilitas kesehatan baik negeri atau swasta untuk memberikan pelayanan kesehatan adanya dugaan anthraks," paparnya. (Tribunjogja/Wisang Seto Pangaribowo)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved