Marak Aksi Klitih di Kalangan Pelajar, Disdikpora DIY Akan Kumpulkan Guru BK

Marak Aksi Klitih di Kalangan Pelajar, Disdikpora DIY Akan Kumpulkan Guru BK

Marak Aksi Klitih di Kalangan Pelajar, Disdikpora DIY Akan Kumpulkan Guru BK
Tribun Jogja/Almurfi Syofyan
Kapolresta Yogyakarya, Kombes Pol Armaini, (duduk satu dari kiri) saat memamerkan sepuluh pelaku yang diduga sebagai pelaku kriminalitas jalanan atau kerap disebut klitih saat jumpa pers di Mapolresta Yogyakarta, Minggu (12/1/2020) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fenomena klitih yang melibatkan para pelajar kian marak terjadi akhir-akhir ini.

Plt Kadisdikpora DIY Bambang Wisnu Handoyo mengatakan, menanggapi aksi klitih yang kian marak tersebut pihaknya dalam waktu dekat ini akan mengumpulkan para Guru Bimbingan Konseling (BK) masing-masing sekolah.

Hal tersebut untuk menelisik lebih dalam latar belakang murid-muridnya.

"Guru BK jangan hanya tahu data siswa saja, tapi bisa digali lebih dalam kalau perlu cek latar belakangnya," ujarnya Senin (13/1/2020).

Ia pun meminta sekolah untuk mengecek latar belakang siswanya, apakah siswa maupun keluarganya memiliki riwayat catatan kriminal atau tidak.

Dengan begitu, menurut dia, pengarahan soal penanganan klitih menjadi berbeda jika sekolah mengetahui latar belakang siswanya.

Yogya Darurat Klitih, Sri Sultan Hamengku Buwono X : Kita Coba Lakukan Pendekatan Budaya

Eko Suwanto : Cegah Klitih, Orangtua, Tokoh dan Pemerintah Harus Perkuat Budi Pekerti Anak

Bambang menegaskan, sekolah jangan hanya bergerak mengundang para siswa setelah kejadian klitih, tapi sekolah juga harus bisa mengantisipasi kenapa masih terjadi klitih.

"Kalau masih dibiarkan tidak akan ada perubahan. Tapi saya menekankan, Guru BK punya data siswa untuk totalitas data," ungkapnya.

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof Danisworo mengungkapkan aksi klitih dapat dicegah dengan adanya kolaborasi antar siswa di sekolah.

Sebab selama ini, kata dia, para siswa cenderung berkompetisi untuk mendapatkan nilai bagus dan mendapatkan rangking.

Siswa yang tidak masuk ke dalam rangking tersebut bisa menyebabkan frustasi.

"Dengan adanya kolaborasi dapat mengurangi persaingan yang negatif di sekolah," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter yang sudah seharusnya diajarkan sejak dini.

“Kalau ilmu bisa dikejar saat dewasa, tapi kalau pendidikan karakter telat diajarkan akan lebih susah,” kata dia. (Tribunjogja/Noristera Pawestri)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved