Pendidikan

UGM Canangkan Desa Kemiri Sebagai Desa Mandiri Pangan

Rencananya Desa Kemiri akan dikembangkan sebagai desa agrowisata yang berbasis tanaman hutan dan ternak dalam wadah Gama Agro MeD Vet Edupark.

Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM mencanangkan Desa Kemiri, Tanjungsari, Gunungkidul, sebagai desa mandiri pangan beberapa waktu yang lalu 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM mencanangkan Desa Kemiri, Tanjungsari, Gunungkidul, sebagai desa mandiri pangan beberapa waktu yang lalu.

Bertempat di balai Desa Kemiri, pencanangan desa mandiri lewat program Gama Agro Med Vet Edupark ini secara simbolis ditandai dengan penyerahan 4000 bibit pohon yang diserahkan pada Kepala Desa dan Ketua Karang Taruna.

Kegiatan yang dikemas dalam festival Desa Sehat dan Mandiri Pangan ini memamerkan berbagai produk hasil olahan pangan dan kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dan pelayanan kesehatan hewan.

Anggota tim peneliti dari FKH UGM, Dr drh, Sarmin mengatakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk mewujudkan Desa kemiri sebagai pusat pendidikan dan pelatihan teknologi terapannya untuk bidang teknologi pertanian dan kesehatan hewan.

Prof Supriyanto dan Prof Agnes Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Fakultas Teknologi Pangan UGM

“Kita juga menyediakan konsultasi interaktif antara warga dengan ahli untuk mewujudkan kemiri bisa mandiri pangan,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunjogja.com, Rabu (27/11/2019).

Sarmin mengatakan rencananya Desa Kemiri akan dikembangkan sebagai desa agrowisata yang berbasis tanaman hutan dan ternak dalam wadah Gama Agro MeD Vet Edupark.

Oleh karena itu menurut Sarmin, penyerahan 4000 bibit tanaman yang berasal dari bantuan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Hutan Lindung Serayu Opak Progo ini bisa mendukung ke arah tersebut.

Sarmin menyebutkan beberapa jenis bibit pohon yang ditanam diantaranya bibit tanaman sengon, sirsak, mahoni, jeruk dan jati. 

Dr drh Soedarmanto Indarjulianto, salah satu anggota peneliti lainnya menambahkan pemilihan Desa Kemiri sebagai lokasi pengembangan agrowisata, teknologi pangan dan kesehatan hewan ini menurutnya berangkat dari persoalan yang dihadapi peternak atas banyaknya kasus penyakit cacing yang begitu tinggi yang menginfeksi ternak sapi sehingga pertumbuhan ternak jadi terhambat.

Mahasiswa UGM Ciptakan Bone Graft dari Tulang Kambing

“Kita melihat adanya lingkungan kandang yang tidak sehat, karena setiap hari ternak menyatu dengan kotoran yang ada di kandang,” kata Indarjulianto.

Selain itu, tim kesehatan hewan FKH UGM juga menemukan adanya kasus inseminasi buatan (IB) yang gagal meski telah berkali-kali dikawinkan.

Untuk bidang pengolahan pertanian desa ini termasuk daerah penghasil singkong yang lebih banyak diolah menjadi gaplek.

“Tim dari UGM mencoba membantu kesehatan ternak dan pengembangan produk olahan pangan sebagai salah satu sumber ekonomi warga,” katanya.  

Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan oleh Tim UGM adalah Pengolahan sumber hijauan lokal sebagai pakan ternak.

UNBOXING KULINER: Snack Hits Super Ekonomis di Jogja

Selanjutnya pemberdayaan petani dalam produksi ternak dan reproduksi melalui revitalisasi singkong dan sumber pangan lokal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved