Bantul
Melihat Jogja Youth Farming, Agrowisata yang Dikelola Anak-anak Muda
Lahan yang awalnya tadah hujan, saat ini dikembangkan menjadi area pertanian terpadu. Berkonsep eduwisata.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
"Bayam kemarin panen, harganya Rp 5.000 permeter persegi. Untuk biaya sewa," kata dia.
Menurut Tugiyanto, penjualan dilakukan dengan sistem digital.
"Kita kemas, kemudian kita posting lewat online," imbuh dia.
• Sawah Seluas 18 Ribu Hektare di Sleman Ditetapkan Sebagai Lahan Pertanian Berkelanjutan
Di kawasan yang terletak dipinggiran pematang sawah itu juga terdapat rumah makan.
Semua bahan baku, seperti sayur mayur, rempah-rempah hingga ikan menurutnya disuplai langsung dari hasil pertanian.
"Jadi konsepnya edukasi tetapi ada rumah makan. Pengunjung bisa belajar bercocok tanam, kemudian memanen. Sayuran itu kemudian disajikan ke resto," kata dia.
Jogja Youth Farming dikembangkan melalui kucuran dana program corporate social Responsibility (CSR) dari PT Pertamina (Persero) Fuel Terminal Rewulu.
Tujuan dari program ini adalah untuk pengembangan Pemuda Bertani Inovatif dan Mandiri [Petani Idaman].
Melibatkan pemuda, sebagai upaya regenerasi petani dan menarik minat pemuda untuk bekerja disektor pertanian.
Fuel Terminal Manager Rewulu, Rahmad Febriadi mengatakan, program petani Idaman merupakan program berkesinambungan.
Melibatkan anak muda karang taruna, pemerintah desa dan Universitas Mercubuana.
Sinergi dengan pihak akademik, menurut dia, untuk membuat inovasi dan terobosan baru dibidang teknologi pertanian.
Misalnya pembuatan Hidroponik, Aquaponik maupun Vertikultur, teknik pertanian merambat ke-atas.
Tujuan utamanya, agar menarik minat anak-anak muda.
"Kita ingin petani yang selama ini Bapak-bapak sepuh bisa diregenerasi lebih muda. Agar regenerasi bidang pertanian tetap ada," ujar dia.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tugiyanto-sedang-merapikan-sayuran-budidaya-hidroponik-di-jogja-youth-farming.jpg)