Cerita Sendang Beji Gunung Kidul yang Tak Pernah Kering Meski Yogya Didera Kemarau Panjang
Sendang ini tidak terlalu besar ukurannya dibanding dengan telaga yang ada di Gunungkidul. Tapi sendang Beji sudah dimanfaatkan penduduk sejak la
Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Mona Kriesdinar
Bagian kanan-kiri dari jalan ini hutan.
Terdapat sejumlah kayu berukuran cukup besar lapuk dan melintang.
Di tengah Hutan Mangunan, di bawah batu berukuran besar, ada sebuah bangunan berpintu satu.
Di balik bangunan itu menjadi pusat mata air.
Bunyi gemericik air mengalir terdengar jelas.
Namun, sayangnya pintu sumber mata air itu rapat terkunci,
Tribunjogja.com beruntung bisa bertemu Suwandi, juri kunci mata air sekaligus juru kunci dari petilasan Sultan Agung.
Ia berkenan membukakan kunci pintu.
Terlihat dari balik bebatuan air jernih mengalir tanpa henti.
Air tersebut masuk ke bak penampungan, kemudian terhubung ke sejumlah pipa penyaluran.
Menurut Suwandi, Mata Air Bengkung sudah ada sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun silam.
Ia tidak tahu tahun persisnya.
Namun, dikatakan olehnya, sejak tahun 1925 - 1928 mata air di Mangunan itu telah dibuat bangunan oleh Belanda.
Tahun 1930 kemudian mulai dimanfaatkan oleh masyarakat.
"Sebagian lagi dialirkan ke makam Raja di Imogiri," ujar dia.
Dikatakan, saat ini ada sekitar 50 keluarga di Padukuhan Cempluk, Desa Mangunan yang memanfaatkan mata air Bengkung untuk keperluan sehari-hari.
Sejak puluhan tahun silam, airnya selalu mengalir jernih dan tidak pernah kering.
"Sepanjang tahun meski musim kemarau sumbernya ada terus. Tidak pernah kering. Kalau susut, iya, tapi tidak pernah kering," jelas dia.
Sebagai juru kunci, Suwandi dipercaya untuk merawat kelestarian mata air.
Satu di antara kegiatan rutin yang ia lakukan adalah menengok dan membersihkan mata air.
"Pohon-pohon dirawat. Supaya lestari. Jangan ditebang," katanya.
Menurut dia, selama ini banyak masyarakat luar Kota Yogyakarta sengaja datang berkunjung ke mata air Bengkung.
Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menginginkan hajatnya terkabul.
"Ada yang dari Solo, Semarang, Sragen. Dari Jakarta juga ada," ungkapnya.
Konon, kata Suwandi, mengapa dinamakan mata air Bengkung.
Diambil dari tradisi masyarakat yang hajatnya terpenuhi setelah datang dan berdoa di seputaran mata air dan petilasan Sultan Agung.
"Di sini ada tradisi, ketika meminta kepada Tuhan. Kemudian, dari sini hajatnya sudah terpenuhi biasanya membuat Ambengan Ingkung. Kata itu kemudian lama kelamaan menjadi Bengkung," ujar dia, menjelaskan.
Lepas dari mitos dan tradisi yang ada di sana, Bengkung merupakan mata air yang jernih.
Dilestarikan dan dikelola dengan baik sebagai aset yang bermanfaat bagi kehidupan warga masyarakat setempat. ( Tribunjogja.com |Ahmad Syarifudin |Wisang Seto )