Cerita Sendang Beji Gunung Kidul yang Tak Pernah Kering Meski Yogya Didera Kemarau Panjang
Sendang ini tidak terlalu besar ukurannya dibanding dengan telaga yang ada di Gunungkidul. Tapi sendang Beji sudah dimanfaatkan penduduk sejak la
Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Mona Kriesdinar
Kemarau di Yogyakarta Berlangsung Lebih lama
Kemarau di wilayah Yogyakarta akan dirasakan lebih lama, lantaran awal musim hujan diperkirakan akan mundur selama 20 hari.
Adapun saat ini, wilayah DIY tengah mengalami masa pancaroba atau peralihan musim kemarau menuju musim hujan.
Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengatakan awan mendung yang muncul beberapa hari ini juga menjadi tanda dari pancaroba tersebut.
• Kemarau Makin Lama, Awal Musim Hujan di Yogyakarta Diperkirakan Mundur Hingga 2 Dasarian
"Kondisi ini terutama muncul di wilayah Sleman dan Kulonprogo," jelas Reni melalui pesan singkat pada Minggu (13/10/2019).
Mengenai musim hujan, Reni memperkirakan awal kemunculannya akan mundur hingga 2 dasarian.
Kondisi ini diprediksi bakal dirasakan seluruh wilayah DIY secara merata.
2 dasarian berarti menandakan awal musim hujan akan mundur sebanyak 10 hingga 20 hari.
"Sementara puncak musim hujan akan berlangsung pada Januari dan Februari 2020," ujar Reni.
Sumber Air Mengering
Dengan kondisi kemarau demikian, banyak sumber air semisal telaga, sumur maupun sungai yang sudah mengering. Ini tersebar di sejumlah wilayah di DIY. Tak terkecuali wilayah Gunung Kidul. Namun tidak demikian halnya dengan Sendang Beji yang ada di Gunung Kidul ini.
Sendang Beji terletak di Dusun Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar.
Sendang tersebut tidak terlalu besar ukurannya dibanding dengan telaga yang ada di Gunungkidul.
Namun sendang Beji sudah dimanfaatkan airnya sejak dahulu oleh penduduk Dusun Pengkol.
Terlihat belasan pipa terpasang di sendang Beji disertai beberapa pipa yang digunakan oleh warga sekitar.
Seperti yang diungkapkan warga sekitar sendang, Hadi Sucipto (70), menurutnya sejak dahulu sendang ini sudah dimanfaatkan oleh warga sekitar.
Namun bedanya dulu belum menggunakan pompa air hanya menggunakan gayung dan jeriken.
Menurut pengakuannya hingga musim kemarau saat ini sendang tidak sampai kering.
Mengingat musim kemarau saat ini cukup panjang air disedot pula menggunakan pompa air.
"Dulu sekitar tahun 1987 lebih parah dibanding tahun ini, kalau dulu pohon bambu saja hingga mati karena kering,"katanya
"Namun Sendang disini masih mengeluarkan air dan dimanfaatkan warga sekitar," kenangnya, saat ditemui Tribunjogja.com Rabu (18/9/2019).
Ia menceritakan ketika musim kemarau debit air akan berkurang namun saat musim penghujan air sendang dapat meluap hingga sekitarnya.
"Sendang ini dibersihkan setiap satu tahun sekali saat kegiatan Rasullan atau bersh desa di Desa Pengkol ini."
"Saya harap generasi muda mau menjaga sendang ini dengan, mengingat sesepuh dahulu mengatakan bahwa sendang ini panguripan (penghidupan) untuk warga Pengkol," katanya.
Perangkat Desa Pengkol, Muryanto mengatakan saat musim kemarau tahun ini donatur banyak yang menyumbangkan air bersih untuk desa Pengkol.
Setidaknya dalam satu minggu ada 2 bantuan air bersih dari donatur yang disalurkan melalui kecamatan.
"Hampir semua dusun tahun ini butuh air bersih. Saya berharap ada koordinasi dari pihak donatur maupun kecamatan atau desa agar bantuan air tidak tumpang tindih," katanya.
Maryanto mengatakan sendang Beji memang belum pernah kehabisan debit airnya. Ada 80 Kepala Keluarga yang memanfaatkan air dari sendang ini.
Sendang Bengkung Dling Bantul Tak Pernah

Lain cerita dengan Sendang Beji, di Bantul ada pula Sendang Bengkung yang juga tak pernah kering meski kemarau panjang.
Desa Mangunan di Kecamatan Dlingo, Bantul bukan hanya menyimpan keindahan alam dengan hamparan pepohonan Pinus yang asri.
Di sana terdapat juga cerita legenda yang sarat akan sejarah masa lalu. Satu di antaranya dengan keberadaan Sendang Bengkung.
Sebuah mata air jernih yang tak pernah kering, meski di musim kemarau.
Konon, dari cerita turun-temurun yang beredar di masyarakat, keberadaan sendang ini erat kaitannya dengan sejarah Sultan Agung ketika mencari Siti Arum (tanah wangi).
Sendang ini terletak di kaki bukit Mangunan.
Airnya jernih mengalir di antara celah bebatuan besar.
Untuk menuju kesana, dari jalan Mangunan, pengunjung harus melewati jalanan terjal, berbatu, dengan kontur sedikit menanjak.
Satu-satunya penanda, bahwa anda sudah berada di dekat lokasi hanya papan kecil di tepian jalan bertuliskan "Pertapaan Petilasan Sultan Agung".
Tak ada lokasi parkir, karenanya, kendaraan hanya dipinggiran di tepi jalan.
Pengunjung kemudian naik, jalan kaki melewati puluhan anak tangga.
Tak berapa lama, terdapat sebuah joglo kecil dan bangunan sedikit memanjang.
Di sana tempat para tamu melepas penat dan beristirahat sejenak.
Di tempat itu pula pengunjung akan disapa oleh Suwandi, juru kunci mata air sekaligus juru kunci dari petilasan Sultan Agung.
Alam di tempat tersebut masih sangat sejuk dan asri berkat rimbun pepohonan.
Burung-burung terdengar berkicau, terbang bebas.
Menuju ke sumber mata air, pengunjung harus naik lagi, melewati jalanan setapak sepanjang sekira 200 meter.
Bagian kanan-kiri dari jalan ini hutan.
Terdapat sejumlah kayu berukuran cukup besar lapuk dan melintang.
Di tengah Hutan Mangunan, di bawah batu berukuran besar, ada sebuah bangunan berpintu satu.
Di balik bangunan itu menjadi pusat mata air.
Bunyi gemericik air mengalir terdengar jelas.
Namun, sayangnya pintu sumber mata air itu rapat terkunci,
Tribunjogja.com beruntung bisa bertemu Suwandi, juri kunci mata air sekaligus juru kunci dari petilasan Sultan Agung.
Ia berkenan membukakan kunci pintu.
Terlihat dari balik bebatuan air jernih mengalir tanpa henti.
Air tersebut masuk ke bak penampungan, kemudian terhubung ke sejumlah pipa penyaluran.
Menurut Suwandi, Mata Air Bengkung sudah ada sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun silam.
Ia tidak tahu tahun persisnya.
Namun, dikatakan olehnya, sejak tahun 1925 - 1928 mata air di Mangunan itu telah dibuat bangunan oleh Belanda.
Tahun 1930 kemudian mulai dimanfaatkan oleh masyarakat.
"Sebagian lagi dialirkan ke makam Raja di Imogiri," ujar dia.
Dikatakan, saat ini ada sekitar 50 keluarga di Padukuhan Cempluk, Desa Mangunan yang memanfaatkan mata air Bengkung untuk keperluan sehari-hari.
Sejak puluhan tahun silam, airnya selalu mengalir jernih dan tidak pernah kering.
"Sepanjang tahun meski musim kemarau sumbernya ada terus. Tidak pernah kering. Kalau susut, iya, tapi tidak pernah kering," jelas dia.
Sebagai juru kunci, Suwandi dipercaya untuk merawat kelestarian mata air.
Satu di antara kegiatan rutin yang ia lakukan adalah menengok dan membersihkan mata air.
"Pohon-pohon dirawat. Supaya lestari. Jangan ditebang," katanya.
Menurut dia, selama ini banyak masyarakat luar Kota Yogyakarta sengaja datang berkunjung ke mata air Bengkung.
Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menginginkan hajatnya terkabul.
"Ada yang dari Solo, Semarang, Sragen. Dari Jakarta juga ada," ungkapnya.
Konon, kata Suwandi, mengapa dinamakan mata air Bengkung.
Diambil dari tradisi masyarakat yang hajatnya terpenuhi setelah datang dan berdoa di seputaran mata air dan petilasan Sultan Agung.
"Di sini ada tradisi, ketika meminta kepada Tuhan. Kemudian, dari sini hajatnya sudah terpenuhi biasanya membuat Ambengan Ingkung. Kata itu kemudian lama kelamaan menjadi Bengkung," ujar dia, menjelaskan.
Lepas dari mitos dan tradisi yang ada di sana, Bengkung merupakan mata air yang jernih.
Dilestarikan dan dikelola dengan baik sebagai aset yang bermanfaat bagi kehidupan warga masyarakat setempat. ( Tribunjogja.com |Ahmad Syarifudin |Wisang Seto )