Lifestyle
Tips Menghadapi Anak di Masa Puber
Pubertasa merupakan periode kehidupan dimana terjadi kematangan organ organ seks mencapai tahap menjadi fungsional.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Gaya Lufityanti
"Rupanya dengan sering ngobrol bisa membuat anak nyaman cerita ke kita sebagai orang tua sehingga anak juga menghargai apa yang dipercayakan kepadanya. Cara ini membuat saya sebagai orang tua juga lebih nyaman," kata pria yang menekuni dunia desain grafis ini.
Lain halnya dengan Kinanti, sejak menyadari anak laki-laki semata wayangnya memasuki masa puber, ia sudah lebih dulu membekali anaknya dengan contoh contoh nyata dalam pergaulan remaja.
Satu di antaranya soal tumbuhnya perasaan sayang terhadap lawan jenis.
Beberapa kali bahkan Kinanti sengaja memberi kesempatan si anak yang saat ini duduk di kelas 1 SMP untuk bercerita siapa perempuan yang menyita perhatiannya di sekolah.
"Aku mencoba membiasakan anak selalu terbuka cerita apa saja, dari situ aku bisa mengontrol ketika pergaulannya salah arah atau menimbulkan efek kurang baik," kata perempuan yang berkarir di dunia hospitality ini.
Dukungan Orang Tua Kunci Utama
Ajeng Diah Hartawati, psikolog asal Yogyakarta ini menuturkan, masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa.
Biasanya masa remaja kerap disebut juga masa puber.
Puber berasal dari kata pubertas.
Pubertasa merupakan periode kehidupan dimana terjadi kematangan organ organ seks mencapai tahap menjadi fungsional, inilah yang menyebabkan mulai munculnya perasaan suka terhadap lawan jenis.
Pubertas adalah masa transisi dari masa anak ke masa dewasa dengan munculnya tanda-tanda seksual sekunder dan kemampuan bereproduksi dengan ditandai perubahan hormonal, perubahan fisik, maupun perubahan psikologis dan sosial.
Masa ini biasanya dimulai sejak usia 8 hingga 14 dan berakhir 16-18 tahun.
Perubahan dari berbagai sisi tersebut menyebabkan perubahan perilaku anak dan sering membuat kebanyakan orangtua merasa bingung harus bersikap bagaimana pada anak mereka.
"Perasaan cemas orang tua cenderung meningkat karena sikap anak yang tampak berubah, mulai suka pada lawan jenis takut sang anak salah pergaulan, anak lebih suka menghabiskan waktu dengan temannya, suka menentang, emosional, ataupun justru menjadi lebih pendiam dan tertutup," terang Ajeng.
Lanjut Ajeng, meskipun pada masa ini, anak tampak lebih senang dan cenderung dekat pada temannya, peran orang tua sangatlah penting di masa pubertas ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tips-menghadapi-anak-di-masa-puber.jpg)