Bantul
Kisah-kisah Tukang Becak di Yogya, Seharian Cuma Dapat Rp15 Ribu hingga Mengayuh dengan Satu Kaki
Sukamto sudah mengayuh becak dari rumahnya di Guwosari, Pajangan, menuju simpang empat Gose, depan kantor DPRD Bantul
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
"Saya gak sadar, setelah sadar saya sudah dirawat. Kalo cerita dari yang menolong, saya masuk ke lubang bekas bakaran sampah," imbuhnya.
Setelah perawatan dia kembali menjalani aktivitas sebagai tukang becak.
Saat itu kondisinya belum puluh seratus persen.
Namun meski masih sakit, Wawan tetap nekad melakoni profesinya sebagai tukang becak.
Tuntutan sebagai tulang punggung keluarga memaksanya tetap menjalani profesi ini.
"Saya langsung kerja lagi, tapi masih terasa sakit. Sampai ada rombongan sedekah rombongan yang melihat, lalu saya ditawari untuk berobat," katanya.
Saat menjalani pengobatan, Wawan dirujuk menuju RSPAU Hardjolukito.

Amputasi
Namun dokter di sana menyarankan untuk mengamputasi kakinya.
"Dokter bilang kaki saya harus diamputasi, biar infeksinya gak menyebar sampai kemana-mana," jelasnya
Wawan mengakui bahwa dia tidak gentar ketika waktu itu disarankan untuk dilakukan tindakan amputasi.
"Yang penting saya bisa sembuh, jadi nggak ada rasa takut atau apapun saat itu," jelasnya.
Setelah amputasi dilakukan, Wawan sempat mendapatkan perawatan selama 16 bulan yang dibiayai oleh sedekah rombongan.
Pasca perawatan, Wawan masih melanjutkan profesinya sebagai tukang becak.
Wawan mengakui bahwa awalnya dulu dia sempat dibelikan kaki palsu untuk membantu aktivitasnya.
"Habis operasi dulu dibelikan kaki palsu sama sedekah rombongan, tapi sudah rusak 2 tahun yang lalu," cetusnya.
Kaki palsu tersebut menurut Wawan sangat membantu dirinya dalam menjalankan profesi sebagai tukang becak.
"Kaki palsunya sebenarnya sangat membantu, saya bisa jalan normal seperti biasa. Ya walaupun untuk mengayuh rasanya sedikit aneh," tuturnya.
Tak mau merepotkan
Pria yang sejak kecil telah dituntut untuk mandiri ini mengaku akan terus bekerja walaupun kondisinya tidak seperti dulu lagi.
"Pedoman saya itu bisa bekerja sendiri tanpa merepotkan orang lain, yang penting kerjaan saya halal," ujarnya.
"Saya dari kecil sudah jualan koran, jualan minuman di bus-bus, apapun itu saya kerjakan," imbuhnya.
Saat ditemui tribunjogja.com Wawan tiba-tiba didatangi oleh seorang ibu dan anaknya, yang membawakannya sebuah pisang dan jeruk untuk dimakannya.
Terdengar tariakan 'bapak', dari mulut mungil anak tersebut saat menghampiri Wawan yang tengah duduk dalam becaknya.
"Itu bukan anak saya, saya cuma bantu merawat saja. Sebenarnya itu anak teman saya, tapi sekarang sudah meninggal," jelasnya.
Wawan menceritakan bahwa dia selama ini membantu memberikan sedikit uang yang didapatkannya untuk kebutuhan anak tersebut.
"Kasian, bapaknya sudah nggak ada. Nggak ada yang perduli juga sama mereka," ujarnya.
Saat ditanya kesehariannya, Wawan mengakui bahwa dia tidur di becaknya.
"Sehari-hari saya tidur di becak ini, kalo kangen sama pakdhe baru pulang kerumah," tuturnya.
Penghasilan tak tentu
Wawan juga menceritakan jika sekarang penghasilannya tidak menentu.
"Kadang dapat 20.000 kadang 50.000, bahkan kadang nggak dapat apa-apa," jelasnya.
Walaupun demikian dia tetap bersyukur, di luar sana masih banyak orang yang perduli dengan kondisinya.
"Syukurlah mas, terkadang ada yang beri lebih padahal saya nggak matok harga. Sukarela saja," ujarnya.
Wawan juga mengakui bahwa kruk yang dibawanya merupakan hadiah dari seorang penumpang.
"Ini kruk juga dari penumpang 2 tahun lalu, dulu saya antar ke pasar. Malah di bawa ke rumah sakit, karena bekas operasi pertama masih sering terasa sakit," katanya.
"Itu saya dibawa ke Panti Rapih, operasi lagi. Di sana tiga hari, pulang-pulang saya ngga boleh turun dari mobil. Malah diajak beli kruk," pungkasnya. (Tribunjogja.com | Andreas Desca Budi Gunawan )