Bantul
Kisah-kisah Tukang Becak di Yogya, Seharian Cuma Dapat Rp15 Ribu hingga Mengayuh dengan Satu Kaki
Sukamto sudah mengayuh becak dari rumahnya di Guwosari, Pajangan, menuju simpang empat Gose, depan kantor DPRD Bantul
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Selain Sukamto, tukang becak yang biasa mangkal disimpang empat Gose, ada Tukijan.
Ia sudah 32 tahun menjadi pebecak.
Tepatnya, sejak tahun 1987.
Tukijan bercerita, menjadi tukang becak dari tahun ke tahun semakin susah.
Sepi penumpang, minim pendapatan. Kalah dengan transportasi digital.
Bantu Orang
Meski minim penghasilan, Tukijan mengaku tetap bersyukur menjalani profesinya sebagai tukang becak.
Pasalnya, tukang becak yang identik dengan jalanan, selalu memberi kesempatan bagi dirinya untuk berbuat baik kepada orang lain.
Meski terkadang, beberapa kali niat ingin menolong justru merugikan dirinya sendiri.
Seperti misalnya, Ia bercerita, suatu ketika saat sepulang menarik becak, pada kisaran tahun 1990-an, dirinya menemukan sekarung kedelai yang akan dibuat tempe.
Karung kedelai tersebut tergeletak di Jalanan.
"Tahun 90-an tempe masih makanan mewah. Saya menemukan sekarung di jalan. Saya kan kasihan. Saya cari-cari orang yang punya, tapi ngga ketemu," cerita dia.
Karena tidak menemukan siapa pemiliknya, Tukijan akhirnya membawa karung tersebut ke sebuah media massa di Bantul.
Ia berharap melalui media nantinya bisa membantu mengumumkan siapa yang merasa kehilangan kedelai.
Namun, setelah Tukijan bawa kedelai itu, dirinya justru malah disuruh membayar, karena dikira mengiklankan barang. Kalau kata orang.