Petani di Sleman yang Manfaatkan Sumur Bor Tetap Bisa Menanam Padi di Musim Kemarau
Para petani di Sleman secara mandiri membuat sumur bor tersebut untuk mengairi sawah.
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Hari tanpa hujan masih berlangsung, sejumlah petani di wilayah Sleman memanfaatkan sumur bor untuk mengairi sawah.
Mereka secara mandiri membuat sumur bor tersebut untuk mengairi sawah.
Seperti Mujiono, petani di Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, yang mengaku tidak khawatir jika nantinya musim kemarau berjalan lebih panjang dari biasanya.
Ia mengatakan, sumur bor dibuat para petani secara pribadi. Ia sendiri sudah menyiapkan sumur bor jauh-jauh hari untuk mengantisipasi musim kemarau.
Meski demikian, jika ada petani lain yang tidak mampu membuat sumur bor, maka petani yang memiliki sumur bor akan membantu mereka.
"Kalau kurang air pakai sumur bor. Jadi tidak khawatir gagal panen padi, karena daerah sini biasanya panen bagus,"ujarnya.
Dengan sistem ini, ia pun bisa tiga kali tanam padi dalam tahun ini.
Padi tanam ketiga di tahun ini diperkirakan bisa dipanen pada bulan November.
Di daerah lain, petani yang tak memiliki sumur bor hanya dua kali mengalami masa tanam. Dan masa tanam selanjutnya digunakan untuk jagung atau tanaman lainya.
Seperi Wagito, petani di Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, yang memilih menanam palawija sejak awal Agustus lalu.
Daripada memaksakan menanam padi dan berpotensi gagal panen,maka ia memilih menanam palawija yang tidak membutuhkan banyak air.
"Daripada dipaksakan menanam padi, namun bisa gagal panen," ungkapnya.
Ia memilih menanam jagung serta kacang tanah di lahan sekitar 800 meter.
Baru setelah kemarau selesai, ia akan menanami lahannya dengan padi lagi.
Ia menjelaskan bahwa selama kemarau di daerahnya memang kesulitan air, namun jika musim hujan tiba air di sana akan melimpah.
Sebelumnya, Kepala BMKG Staklim Mlati Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan prakirakan awal musim hujan 2019/2020 di wilayah DIY, pada umumnya dimulai November 2019.
Kecuali wilayah Kabupaten Sleman bagian barat, Kabupaten Kulonprogo bagian utara Oktober 2019 dasarian Ill atau sepuluh hari terakhir di bulan Oktober 2019. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)