Sleman

Kasus Kekerasan terhadap Penyandang Disabilitas Masih Tinggi di Sleman

Pada tahun 2015-2018, korban kekerasan yang didampingi CIQAL sebanyak 126 orang di mana kasus terbanyak ada di Kabupaten Sleman.

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Ketua CIQAL, Suryatiningsih Budi Lestari memberikan presentasi dalam Diskusi Reses Partisipatif, Kamis (15/8/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Yayasan CIQAL, atau biasa disebut CIQAL (Center for Improving Qualified Activity in Life of People with Disabilities) menyebut bahwa angka kekerasan terhadap perempuan, anak dan penyandang disabilitas masih tinggi.

Dari informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, pada tahun 2015-2018, korban kekerasan yang mereka dampingi sebanyak 126 orang di mana kasus terbanyak ada di Kabupaten Sleman dengan jumlah korban sebanyak 70 orang.

Ketua CIQAL, Suryatiningsih Budi Lestari, mengatakan angka tersebut bisa saja lebih besar karena banyak yang tidak memberikan laporan.

Sedangkan dari pengamatan mereka, yang berani lapor lebih memilih ke lembaga pendampingan dari pada ke desa atau kecamatan.

Uniknya Sego Penggel Khas Kebumen di Watoe Gajah

"Kita beri pendampingan, dan rata-rata pelakunya adalah dari lingkungan mereka sendiri, apakah tetangga atau keluarga sendiri," jelasnya.

Untuk mengantisipasi masalah itu, pihaknya pun membangun hubungan dan kerjasama dengan anggota DPRD Sleman, fraksi dan parpol serta masyarakat dalam penerapan reses partisipatif.

Reses yang selama ini dilakukan dinilai belum dapat menjawab permasalahan riil di masyarakat terendah, misal tingkat desa, kaum marginal / terpinggirkan dan kaum rentan.

Adapun reses adalah suatu metode dalam melakukan penjaringan oleh anggota dewan kepada masyarakat, namun reses yang selama ini dilakukan oleh anggota dewan masih konvensional.

Oleh karena itu, CIQAL sebagai Forum Pengadaan Layanan melakukan Diskusi Reses Partisipatif dengan melibatkan anggota dewan, fraksi dan partai politik, Kamis (15/8/2019).

Lebih Dekat dengan Tuna Rungu Asal Gunungkidul yang Berbakat Membuat Wayang Sodo

Ia menilai selama ini anggota dewan dalam melakukan reses hanya melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama dan orang-orang yang memiliki kepentingan kelompok atau golongan tertentu bahkan hanya golongan elit saja.

Dengan problematika tersebut maka perlu dilakukan metode yang berbeda dalam melakukan reses, agar dapat menjaring aspirasi dan menjawab permasalahan riil yang terjadi di masyarakat.

Dengan metode ini maka dapat menjaring dan membuat program pemerintah yang sesuai dengan kebutuhan riil di masyarakat.

"Reses yang sebelumnya hanya konvensional, satu arah dengan ceramah. Sementara kami membantu fasilitasi peserta ini agar bisa menjadi narasumber, sebagai subjek," jelasnya.

Ini disebutnya sebagai bentuk kontribusi dalam membantu fasilitasi metode reses partisipatif untuk kepentingan anggota dewan dalam merawat konstituen di dapilnya masing-masing.

Penyandang Difabel Akibat Gempa Butuh Banyak Adaptasi

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved