Kisah Pengabdian Dokter Cantik di Malang, Rela Berbagi dan Beri Pengobatan Gratis untuk Warga Miskin

Dokter Dian, begitu sapaan akrabnya, semenjak 2007-2008 lalu membuka praktik layanan kesehatan di kediamannya.

Editor: Muhammad Fatoni
SURYA.co.id/Mohammad Romadoni
Dokter Dian Agung Anggraeny 

Saat ini ia selalu melibatkan anak-anaknya saat memberikan pelanggan terhadap masyarakat miskin. Ia berupaya menduplikasi apa yang dilakukan oleh orang tuanya untuk diterapkan ke anak-anaknya.

"Karena semua mengalir apa adanya yang terpenting adalah bisa memberikan pelayanan kesehatan dengan baik dan banyak memberikan manfaat bagi sesama adalah berkah yang luar biasa," terangnya.

Wanita kelahiran 14 Februari 1977 ini mempunyai pengalaman paling berkesan ketika melayani pasien dengan kriteria yang dibebaskan biaya.

Terutama difabel lantaran selama ini mereka selalu termarginal atau kadangkala tidak mendapatkan perlakuan yang sama.

"Ketika mereka mendapatkan pelayanan dan menjadi lebih baik melihat mereka senang saja saya sudah sangat bahagia," ucapnya.

Dalam kegiatan ini Dokter Dian secara mandiri menggunakan dana pribadi tanpa ada bantuan dari pemerintah daerah maupun Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

"Bagaimana ya, standar harga pelayanan kesehatan sudah ada tapi dalam hal membebaskan biaya adalah dari masing-masing personal saja, karena saya hanya melihat sisi kemanusiaan nya saja," tukasnya.

Riwayat akademik Dokter Dian sampai kuliah di FK kedokteran UWKS. Ternyata ada perjuangan keras dan susah payah saat masuk ke FK UWKS.

Pasalnya, orang tuanya sampai menjual rumah investasi untuk biaya kuliah pada tahun 1995.

Saat itu rumah itu terjual sekitar Rp 10,5 juta.

Biaya masuk ke fakultas kedokteran sekitar Rp 15 juta.

Ia mendapat keringanan membayar biaya masuk Rp 7,5 juta karena latar belakang orang tuanya tenaga medis, ayahnya di Puskesmas Pakis Haji dan ibunya di Puskesmas Sumber Pucung Malang.

"Saya senang dan bangga dengan UWKS, karena tidak hanya nilai akademis yang saya terima, tetapi juga pendidikan karakter yang saya dapatkan. Yang saya pakai hingga sekarang yaitu 5T nya, Tangguh, Tatag, Teteg, Tanggon dan Trapsilo," tutupnya. (Mohammad Romadoni/ Surya) 

Sumber: Surya
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved