Kisah Pengabdian Dokter Cantik di Malang, Rela Berbagi dan Beri Pengobatan Gratis untuk Warga Miskin
Dokter Dian, begitu sapaan akrabnya, semenjak 2007-2008 lalu membuka praktik layanan kesehatan di kediamannya.
TRIBUNJOGJA.COM - Dokter Dian Agung Anggraeny ikhlas mengabdikan diri pada masyarakat melalui pelayanan kesehatan murah di Desa Sumberpucung, Kabupaten Malang.
Dokter cantik lulusan UWKS Surabaya ini juga tidak mematok biaya pelayanan kesehatan khususnya bagi masyarakat tidak mampu.
Bahkan ia secara sukarela memberikan uang pribadinya pada pasien dari masyarakat tidak mampu yang tidak mempunyai ongkos pulang.
Kebanyakan pasien yang ditanganinya adalah masyarakat miskin, berasal dari pelosok desa di sekitar rumah tinggalnya.
Setiap hari selalu ada pasien kurang mampu rata-rata 15 hingga 25% dari seluruh jumlah pasien.
Dokter Dian begitu sapaan akrabnya semenjak 2007-2008 lalu membuka praktik layanan kesehatan di kediamannya.
Ia terinspirasi memberikan layanan kesehatan untuk membantu masyarakat tidak mampu dari kedua orang tua yang kebetulan mereka adalah tenaga kesehatan (Ayah perawat, Ibu: Bidan) yang selalu melakukan hal-hal demikian sebelumnya.
Semenjak SD ia diajak orang tuanya mengunjungi pasien dari golongan masyarakat tidak mampu yang membutuhkan pemeriksaan medis maupun pengobatan.
Dari situlah ia pun mengikuti jejak dari orang tuanya hingga memberikan pelayanan kesehatan tanpa dipatok biaya untuk membantu masyarakat lapis bawah.
"Mereka (Orangtuanya) seringkali bersosial di manapun dan kepada yang dianggap kurang beruntung ataupun butuh pertolongan. Di mana kadangkala ketika melakukan kegiatan tersebut mereka tidak segan mengajak atau melibatkan anak-anaknya sembari mengajarkan apa arti berbagi dan bagaimana memanusiakan manusia," ungkap Dokter Dian.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengatakan tidak pernah membedakan antara pasien miskin ataupun masyarakat dari golongan berada semua penanganannya sama.
Selain itu, ia tidak pernah membatasi biaya pengobatan pasien yang berasal dari golongan masyarakat tidak mampu.
Ada pasien miskin yang tidak mempunyai uang bahkan membayar biaya pengobatan memakai hasil panen.
"Dan pengganti biaya pengobatan bisa saja dengan sayur mayur, hasil bumi ataupun apa saja yang mereka punya yang kadang justru lebih mahal dari biaya itu sendiri. Ada pula yang benar-benar tidak membayar jika memang tidak mampu di antaranya pasien, difable, ODHA dan TBC," ujarnya.
Dikatakannya, ia mendapatkan kebahagiaan tiada tara saat memberikan pelayanan kesehatan tersebut. Apalagi, sangat senang ketika bisa membantu sesama dan membuat mereka sehat serta bahagia juga.
Melihat senyum pasien yang berkembang menjadi sehat melalui penanganannya adalah kepuasan tersendiri.
Intinya, ia begitu senang berbagi, bukan sekedar materi tapi berbagi rasa dan hati.
Dokter Dian juga tercatat aktif di organisasi sosial seperti di kelompok dampingan sebaya untuk Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) selama 11 tahun, Komunitas Disable Motorcycle Indonesia (DMI), Buruh Migran Indonesia (BMI) 2 tahun dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) dan Komunitas Tuli Kabupaten Malang.
"Dari segi materi, berbagi tidak harus menunggu kaya tapi karena saya pernah dan bisa merasakan yang mereka rasakan. Berbagipun menumbuhkan cinta kasih yang sangat luar biasa efeknya bagi diri kita sendiri maupun sesama. Jadi bersifat Holistik penyembuhannya," pungkasnya.
Ditambahkannya, sebenarnya bukan tidak mematok harga karena sudah ada harga standar pengobatan. Ia menerapkan tarif standar bagi pasien yang mampu.
Akan tetapi ada juga yang tidak dipatok bagi mereka kurang beruntung atau kurang mampu. Pihaknya memberikan pengobatan selalu dengan terapi ataupun obat yang dibawa pulang.
"Dimulai sejak orang tua saya dahulu hingga sekarang saya tinggal meneruskan. Dan InsyaAllah akan berlangsung seterusnya, karena tidak akan habis harta kita hanya karena berbagi saja, selalu ada rejeki dari arah tak disangka-sangka," tuturnya.
Dokter Dian yang merupakan alumni SMAN 5 Malang ini mempunyai keinginan yang hingga kini belum terwujud. Keinginannya adalah bisa menyediakan mobil ambulans gratis bagi masyarakat tidak mampu.
Pasalnya, dari pengalamannya banyak pasien tidak mampu yang berasal dari rujukan desa lain kesulitan berobat karena terkendala jauh jaraknya lebih dari 20 kilometer.
Bahkan ada pasien yang berobat hingga menyewa angkutan umum untuk berobat di tempat praktiknya.
Terkadang ada pasien yang tidak bisa pulang karena kondisi fisiknya.
Karena merasa iba ia secara sukarela memakai uang pribadinya untuk menyewakan mobil ambulans atau mobil angkutan umum mengantarkan pasiennya pulang ke rumahnya.
"Keinginan jangka pendek ada mobil ambulans gratis untuk masyarakat tidak mampu karena disini kebanyakan pasien dari pelosok desa yang kondisi finansial tidak mampu. Selain itu, saya bisa memberikan pelayanan yang semakin baik lagi nantinya," imbuhnya.
Meski kenyataannya sekolah kedokteran tidak mudah apalagi membutuhkan biaya tinggi tidak pernah terbersit sedikitpun dibenaknya untuk mengembalikan dana pendidikan yang sudah dikeluarkan.
Dia seakan-akan tidak memburu materi hasil dari praktik itu cukup untuk makan sehari-hari kebutuhan tiga anaknya tercukupi. Sudah pasti ada dana pribadi dikorbankan. Untuk waktu yang tersita untuk kegiatan sosial didukung oleh keluarganya.
Saat ini ia selalu melibatkan anak-anaknya saat memberikan pelanggan terhadap masyarakat miskin. Ia berupaya menduplikasi apa yang dilakukan oleh orang tuanya untuk diterapkan ke anak-anaknya.
"Karena semua mengalir apa adanya yang terpenting adalah bisa memberikan pelayanan kesehatan dengan baik dan banyak memberikan manfaat bagi sesama adalah berkah yang luar biasa," terangnya.
Wanita kelahiran 14 Februari 1977 ini mempunyai pengalaman paling berkesan ketika melayani pasien dengan kriteria yang dibebaskan biaya.
Terutama difabel lantaran selama ini mereka selalu termarginal atau kadangkala tidak mendapatkan perlakuan yang sama.
"Ketika mereka mendapatkan pelayanan dan menjadi lebih baik melihat mereka senang saja saya sudah sangat bahagia," ucapnya.
Dalam kegiatan ini Dokter Dian secara mandiri menggunakan dana pribadi tanpa ada bantuan dari pemerintah daerah maupun Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
"Bagaimana ya, standar harga pelayanan kesehatan sudah ada tapi dalam hal membebaskan biaya adalah dari masing-masing personal saja, karena saya hanya melihat sisi kemanusiaan nya saja," tukasnya.
Riwayat akademik Dokter Dian sampai kuliah di FK kedokteran UWKS. Ternyata ada perjuangan keras dan susah payah saat masuk ke FK UWKS.
Pasalnya, orang tuanya sampai menjual rumah investasi untuk biaya kuliah pada tahun 1995.
Saat itu rumah itu terjual sekitar Rp 10,5 juta.
Biaya masuk ke fakultas kedokteran sekitar Rp 15 juta.
Ia mendapat keringanan membayar biaya masuk Rp 7,5 juta karena latar belakang orang tuanya tenaga medis, ayahnya di Puskesmas Pakis Haji dan ibunya di Puskesmas Sumber Pucung Malang.
"Saya senang dan bangga dengan UWKS, karena tidak hanya nilai akademis yang saya terima, tetapi juga pendidikan karakter yang saya dapatkan. Yang saya pakai hingga sekarang yaitu 5T nya, Tangguh, Tatag, Teteg, Tanggon dan Trapsilo," tutupnya. (Mohammad Romadoni/ Surya)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dokter-dian-agung-anggraeny.jpg)