Replika Catra Jadi Ikon Utama Kirab Pusaka Nusantara 2026

Kemenbud sosialisasikan Catra sebagai benda pusaka yang diyakini pernah bertahta di puncak stupa Candi Borobudur.

Penulis: Yuki Pramudya | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Yuki Pramudya
Catra, Prosesi Kirab Pusaka Nusantara di Borobudur mengambil ikon Catra Borobudur sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat 
Ringkasan Berita:
  • Replika Catra menjadi ikon utama dalam Kirab Pusaka Nusantara di Candi Borobudur untuk memperingati Hari Warisan Budaya dan Hari Keris Nasional.
  • Acara melibatkan masyarakat dari 20 desa yang menampilkan potensi UMKM dan tradisi gotong royong sebagai bentuk living heritage.
  • Menbud Fadli Zon menegaskan proses sosialisasi dan kajian teknis terus dilakukan sebelum Catra nantinya dikembalikan ke puncak stupa.

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia terus mensosialisasikan Catra sebagai benda pusaka yang diyakini pernah bertahta di puncak stupa Candi Borobudur.

Upaya ini salah satunya diwujudkan dalam peringatan Hari Warisan Budaya Nasional (18 April) dan Hari Keris Nasional (19 April). 

Replika Catra dijadikan ikon utama dalam gelaran Kirab Pusaka Nusantara yang berlangsung pada Jumat (17/04/2026) malam.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menjelaskan bahwa pemilihan Candi Borobudur sebagai lokasi kirab dilakukan karena nilai ikoniknya sebagai simbol kemajuan peradaban masa lalu.

"Biasanya kan kirab pusaka dilakukan di keraton-keraton, di Solo misalnya di Yogyakarta atau di berbagai tempat lain, nah ini untuk pertama kali kita lakukan juga di Borobudur dan disambut dengan antusias oleh masyarakat juga dan oleh komunitas ya, termasuk oleh warga dari perkerisan dan paguyuban-paguyuban yang ada," jelas Fadli Zon.

Menurut Fadli, kirab ini merupakan bentuk ekspresi budaya yang mendapat sambutan hangat dari warga sekitar. 

Baca juga: HUT Kota Magelang, Wali Kota Resik-resik Bareng di Pasar hingga Fasilitas Umum

Hal ini terlihat dari keterlibatan UMKM dan masyarakat dari 20 desa yang bergotong-royong menyiapkan tumpeng serta berbagai atribut tradisi.

"Tadi kita lihat ya, dengan hadirnya UMKM dan masyarakat di 20 desa bersama-sama mereka memulai gotong royong, tumpeng, kemudian juga berbagai atribut termasuk baju-baju dan seragam, dan juga ada tumpeng lanang dan tumpeng wadon dan juga cukup banyak lainnya," imbuh Fadli.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa prosesi kirab ini menjadi momentum penting untuk mensosialisasikan rencana pemasangan kembali Catra di puncak Candi Borobudur pada masa mendatang.

"Ya nanti pada waktunya ya, nanti sesuai dengan aspirasi yang kami terima dari masyarakat, masyarakat Budha juga dan saya kira ini bagian dari living heritage, jadi ini adaptasi tidak ada satu hal yang menurut saya mengganggu dalam hal ini karena ini adaptasi dan sudah berkali-kali dilakukan sosialisasi, kita juga menerima termasuk berdiskusi, mungkin ada beberapa kali FGD termasuk dengan para ahli sejarawan budayawan, arkeolog dan sebagainya jadi nanti masih di dalam proses," tegas Fadli Zon.

Selain replika Catra, kirab tersebut juga menampilkan berbagai pusaka lain yang merepresentasikan objek-objek pada relief candi. Fadli meyakini bahwa pelestarian ini sejalan dengan amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 mengenai kewajiban negara untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. (*)

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved