Kisah Pengabdian Dokter Cantik di Malang, Rela Berbagi dan Beri Pengobatan Gratis untuk Warga Miskin

Dokter Dian, begitu sapaan akrabnya, semenjak 2007-2008 lalu membuka praktik layanan kesehatan di kediamannya.

Editor: Muhammad Fatoni
SURYA.co.id/Mohammad Romadoni
Dokter Dian Agung Anggraeny 

Melihat senyum pasien yang berkembang menjadi sehat melalui penanganannya adalah kepuasan tersendiri.

Intinya, ia begitu senang berbagi, bukan sekedar materi tapi berbagi rasa dan hati.

Dokter Dian juga tercatat aktif di organisasi sosial seperti di kelompok dampingan sebaya untuk Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) selama 11 tahun, Komunitas Disable Motorcycle Indonesia (DMI), Buruh Migran Indonesia (BMI) 2 tahun dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) dan Komunitas Tuli Kabupaten Malang.

"Dari segi materi, berbagi tidak harus menunggu kaya tapi karena saya pernah dan bisa merasakan yang mereka rasakan. Berbagipun menumbuhkan cinta kasih yang sangat luar biasa efeknya bagi diri kita sendiri maupun sesama. Jadi bersifat Holistik penyembuhannya," pungkasnya.

Ditambahkannya, sebenarnya bukan tidak mematok harga karena sudah ada harga standar pengobatan. Ia menerapkan tarif standar bagi pasien yang mampu.

Akan tetapi ada juga yang tidak dipatok bagi mereka kurang beruntung atau kurang mampu. Pihaknya memberikan pengobatan selalu dengan terapi ataupun obat yang dibawa pulang.

"Dimulai sejak orang tua saya dahulu hingga sekarang saya tinggal meneruskan. Dan InsyaAllah akan berlangsung seterusnya, karena tidak akan habis harta kita hanya karena berbagi saja, selalu ada rejeki dari arah tak disangka-sangka," tuturnya.

Dokter Dian yang merupakan alumni SMAN 5 Malang ini mempunyai keinginan yang hingga kini belum terwujud. Keinginannya adalah bisa menyediakan mobil ambulans gratis bagi masyarakat tidak mampu.

Pasalnya, dari pengalamannya banyak pasien tidak mampu yang berasal dari rujukan desa lain kesulitan berobat karena terkendala jauh jaraknya lebih dari 20 kilometer.

Bahkan ada pasien yang berobat hingga menyewa angkutan umum untuk berobat di tempat praktiknya.

Terkadang ada pasien yang tidak bisa pulang karena kondisi fisiknya.

Karena merasa iba ia secara sukarela memakai uang pribadinya untuk menyewakan mobil ambulans atau mobil angkutan umum mengantarkan pasiennya pulang ke rumahnya.

"Keinginan jangka pendek ada mobil ambulans gratis untuk masyarakat tidak mampu karena disini kebanyakan pasien dari pelosok desa yang kondisi finansial tidak mampu. Selain itu, saya bisa memberikan pelayanan yang semakin baik lagi nantinya," imbuhnya.

Meski kenyataannya sekolah kedokteran tidak mudah apalagi membutuhkan biaya tinggi tidak pernah terbersit sedikitpun dibenaknya untuk mengembalikan dana pendidikan yang sudah dikeluarkan.

Dia seakan-akan tidak memburu materi hasil dari praktik itu cukup untuk makan sehari-hari kebutuhan tiga anaknya tercukupi. Sudah pasti ada dana pribadi dikorbankan. Untuk waktu yang tersita untuk kegiatan sosial didukung oleh keluarganya.

Sumber: Surya
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved