Yogyakarta

Penjualan Bunga Tabur Meningkat di Pasar Beringharjo

Menjelang puasa, lapak bunga tabur di pinggir Pasar Beringharjo terlihat lebih ramai dari biasanya.

Tayang:
Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Penjual Bunga Tabur di Pasar Beringharjo yang sedang melayani pembeli, Minggu (5/5/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Menjelang puasa, lapak bunga tabur di pinggir Pasar Beringharjo terlihat lebih ramai dari biasanya.

Tari (55) seorang penjual bunga tabur di Pasar Beringharjo mengaku jika sudah dari Bulan Ruwah kemarin lapak dagangannya mulai diserbu para pembeli yang menggunakan bunga tabur tersebut untuk ziarah ke makam.

Tari mengungkapkan jika di hari biasa dia hanya menghabiskan satu karung transparan bunga tabur dalam sehari, saat Bulan Ruwah dia bisa menghabiskan sampai sepuluh karung.

Hagia Bidik Wanita Hijabers yang Dinamis

Untuk harga sendiri di saat Ruwah bisa mencapai Rp 20.000 untuk satu wadah kecil dari harga hari-hari biasa yang hanya seharga Rp 7.500.

Sedangkan untuk wadah besar yang biasanya dihargai Rp 40.000 bisa mencapai Rp 75.000.

"Tapi kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa memang meningkat. Baik dari pembeli maupun dari dagangan yang terjual. Kalau kenaikan harga memang dari sananya dinaikin," terangnya.

Meskipun ada peningkatan dibandingkan dengan hari-hari biasa, namun jika dibandingkan dengan Ruwah tahun-tahun sebelumnya penjualan bunga tabur cenderung menurun.

Hal tersebut terbukti dengan semakin sedikitnya penjual bunga tabur yang ada di Pasar Beringharjo.

Tanamkan Nilai Kepahlawanan, Dinsos Ajak Puluhan Siswa SMP Ziarah ke TMP Giri Dharmoloyo

Tari yang sudah sepuluh tahun berjualan bunga tabur mengaku dulunya di sekitar Pasar Beringharjo ada lebih dari sepuluh penjual bunga tabur, namun sekarang hanya sekitar tiga orang yang berjualan di sekitar Pasar Beringharjo.

"Kalau berkurangnya pembeli mungkin faktor ekonomi. Tapi mungkin juga ada faktor lain seperti kepercayaan mengenai tradisi bunga tabur juga semakin luntur. Kalau saya jualan dari pukul 06.00-16.00 WIB," ungkapnya.

Veronika Niken, pembeli dari Cokrodirjan, Yogyakarta mengaku rutin setiap minggu dan Ruwah membeli bunga tabur untuk dibawa ke makam mertuanya.

Menurutnya harga yang ditawarkan memang jauh berbeda dengan harga biasanya, bisa dua kali lipat kenaikannya.

Mendikbud RI Ziarah ke Makam Ki Hajar Dewantara

Namun menurutnya hal tersebut tidaklah masalah.

"Tidak masalah kalau harga yang penting bisa buat nyekar. Kalau suami saya memang setiap minggu di hari Kamis selalu nyekar. Memang sudah jadi tradisi dari dulu," ungkapnya.

Veronika mengatakan, biasanya tradisi nyekar pada ruwahan dilakukan setelah apeman.

Menurutnya hal tersebut dilakukan untuk menjaga tradisi yang sudah turun temurun.

"Ya memang apeman dulu baru nyekar. Kalau menurut kepercayaan gak bagus kalau nyekar sebelum apeman. Memang rutin seperti ini, apalagi saat orangtua memang sudah meninggal," terangnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved