Yogyakarta

28 April 2019, AP I Boyong Penerbangan Internasional ADS ke NYIA

Operasi penerbangan internasional di Bandara Adisucipto Yogyakarta rencananya akan diboyong ke bandara baru di Kulon Progo pada 28 April 2019.

Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Perkembangan pembangunan NYIA di Temon, Kabupaten Kulon Progo. Foto diambil 15 April 2019. 

Di antaranya, sistem announcing (pengumuman untuk pengguna jasa) di bagian terminal penumpang dan mengajukan sertifikasi garbarata.

"Untuk airside sudah siap semua. Rambu, marka, dan lampu-lampu sudah terpasang," kata Taochid.

Sedangkan terkait area sabuk hijau (green belt/green barrier) pelindung bandara di pantai selatan, pihaknya masih menunggu pihak terkait seperti Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sebagai regulator tata ruang serta Pura Pakualaman sebagai pemilik lahannya.

Ia berharap sabuk hijau itu sudah terbangun secepatnya atau setidaknya pada Mei nanti.

Ia menyebut ketiadaan sabuk hijau saat dimulainya operasi minimum untuk penerbangan internasional di NYIA tidak akan mengganggu aktivitas penerbangan.

"Sejauh ini kita terus memonitor dan tidak menganggu penerbangan," kata Taochid.

Operasikan NYIA, AP I Siapkan Komite Keselamatan dan Keamanan Bandara

Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo mengatakan pihaknya akan mulai fokus menata ruang pantai di selatan NYIA untuk dijadikan kawasan sabuk hijau pelindung setelah ajang Pemilu 2019 ini.

Draft nota kesepahaman (MoU) untuk penggunaan dan penataan lahan itu menurutnya sudah disusun dan tinggal ditandatangani pihak terkait seperti Pemkab Kulon Progo, AP I, dan juga Pura Pakualaman.

Dia berharap sebelum Presiden Joko Widodo datang meresmikan operasi perdana NYIA penanaman pohon cemara untuk sabuk hijau itu bisa dilakukan.

"Kalau dia minggu lagi datang, saya berharap sudah ada penanaman, menandai bahwa kita serius untuk menangani itu. Teknis penanaman tidak terlalu prinsip karena bisa dilaksanakan dalam waktu singkat," kata Hasto.

Sabuk hijau itu disebutnya sangat penting untuk mitigasi bencana di kawasan bandara dan sekitarnya.

Maka itu, pihaknya meminta dukungan dan pengertian dari warga atas rencana penataan lahan di kawasan itu.

Ia menegaskan bahwa rencana ini bukan untuk menyengsarakan warga dan penataan itu tetap akan mengakomodir kepentingan masyarakat di sekitar.

"Kita tidak ingin menelangsakan atau menelantarkan warga. Kami tetap ingin mengakomodir pemikiran mereka. Tapi satu yang perlu diingat, mitigasi bencana ini sangat penting," kata Hasto. (*)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved