Terungkap, Erupsi Gunung Api Terbesar 2018 Ternyata Terjadi di Tempat yang Tak Terduga
Berdasarkan catatan Earth Observatory NASA, erupsi gunung api terbesar di tahun 2018 itu terjadi di Ambae, Kepulauan Vanuatu
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.com - Erupsi Gunung Api terjadi setiap hari di berbagai belahan dunia. Namun yang paling menggemparkan di tahun 2018 yakni erupsi Gunung Kilauea di Hawaii, Amerika Serikat. Peristiwa ini menghiasi headline-headline media massa. Menjadikannya tampak sebagai erupsi gunung api terbesar di tahun 2018.
Tapi ternyata anggapan itu salah. Erupsi gunung api terbesar di tahun 2018 terjadi di tempat yang mungkin tak Anda duga sebelumnya.
Mengenal Sabuk Cincin Api, Si Pembangkit Gempa, Gunung Api dan Tsunami di Indonesia
Berdasarkan catatan Earth Observatory NASA, erupsi gunung api terbesar di tahun 2018 itu terjadi di Ambae, Kepulauan Vanuatu. Gunung Api Manaro Voui meletus dalam fase aktifnya di bulan Juli 2018.
Letusan tersebut menyemburkan 400 ribu ton sulfur dioksida ke troposfer dan stratosfer. Diperkirakan, total ada 600 ribu ton yang dikeluarkan. Jumlah ini tiga kali lebih banyak dibandingkan seluruh material yang dikeluarkan erupsi di tahun 2017.
Skenario Mengerikan Jika Gunung Api di Seluruh Dunia Meletus Seketika Secara Bersamaan
Grafik di bawah ini memperlihatkan kandungan konsentrasi sulfur dioksida di lapisan stratosfer pada tanggal 28 Juli 2018 sebagaimana yang terdeteksi oleh Ozone Mapping Profiler Suite (OMPS) di satelir Suomi-NPP.

Pada saat tersebut, emisi sulfur dari gunung tersebut nyaris mencapai puncaknya dengan peningkatan yang sangat drastis.
Berbeda dengan Gunung Kilauea dan Siera Negra yang memperlihatkan jumlah yang relatif stabil setiap harinya.
Dua Letusan Gunung Api di Indonesia yang Lebih Dahsyat dari Erupsi Gunung Krakatau 1883
'Gunung Api Kilauea dan Galapagos memiliki emisi sulfur dioksisa terus-menerus dari waktu ke waktu. Tapi gunung api di Ambae lebih eksplosif,' kata Simon Carn, profesor vulkanologi di Michigan Tech.
Selama serangkaian letusan di Ambae pada tahun 2018, abu vulkanik menghitamkan langit, mengubur tanaman, dan menghancurkan rumah-rumah. Hujan asam mengubah air hujan — sumber utama air minum di pulau itu — sehingga keruh dan ”seperti logam, seperti jus lemon asam,” kata ahli vulkanologi Selandia Baru Brad Scott.
Tujuh Gunung Api Super Besar yang Letusannya Pernah Mengguncang Seantero Dunia
Sepanjang tahun, populasi pulau sebanyak 11.000 terpaksa diungsikan beberapa kali.
Instrumen OMPS pada satelit Suomi-NPP dan NOAA-20 mengandung sensor yang tampak ke bawah, yang dapat memetakan awan vulkanik dan mengukur emisi sulfur dioksida (SO 2 ) dengan mengamati cahaya ultraviolet yang dipantulkan.
SO 2 dan gas lainnya (seperti ozon) masing-masing memiliki tanda tangan serapan spektral, atau sidik jari unik, yang dapat diukur dan dikuantifikasi oleh OMPS.
7 Gunung Api Ini Punya Skala Ledakan Super Besar, Nomor 2 Ada di Indonesia
"Setelah kami mengetahui jumlah SO 2 , kami meletakkannya di peta dan memantau kemana awan itu bergerak," kata Nickolay Krotkov, seorang ilmuwan atmosfer di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard Space NASA.
Peta-peta, yang diproduksi dalam waktu tiga jam ini kemudian digunakan oleh pusat penasehat abu vulkanik untuk memprediksi pergerakan awan vulkanik dan untuk mengalihkan rute pesawat terbang.
Pada puncak letusan Ambae, ledakan energi yang kuat mendorong gas dan abu ke troposfer atas dan stratosfer.
