Yogyakarta

Bulan Maret, Puncak Panen Jagung dan Padi di Yogyakarta

Sleman dan Gunungkidul merupakan penghasil terbesar padi di Yogyakarta

Tayang:
Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
SHUTTERSTOCK via kompas.com
Ilustrasi tanaman padi 

TRIBUNJOGJA.COM - Musim panen raya padi dan jagung di Yogyakarta sebentar lagi akan berlangsung.

Dua komoditas utama di Yogyakarta ini, saat ini sudah mulai memasuki masa panen.

Diperkirakan puncak masa panen akan terjadi pada Bulan Maret ini.

Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko menjelaskan jika dari dua minggu lalu panen sudah mulai dilakukan.

Baca: On Trend: 6 Gaya Mix and Match Koleksi Terbaru Gaudi Clothing

"Sebentar lagi puncak panen. Maret ini sudah mulai panen. Memang padi dan jagung ini puncak panennya sama-sama. Biasanya panen Februari, tapi ini agak mundur jadi Maret baru mulai panen sampai akhir bulan," ungkapnya pada Tribunjogja.com.

Untuk penghasil terbesar padi di Yogyakarta sendiri yakni Sleman dan Gunungkidul.

Sedangkan untuk jagung, hampir 85% berasal dari Gunungkidul.

"Padi dan jagung komiditas utama di DIY, penghasil terbesar Padi antara di Gunungkidul dan Sleman. Kalau jagung sekitar 85% produksi di DIY berasal dari Gunungkidul. 2019 sudah beberapa kali panen, dan ada juga yang sudah tanam. Mumpung masih hujan, diharapkan bisa tanam lagi," ungkapnya.

Baca: Tingkatkan Produktivitas, Pemkab Bantul Kenalkan Mesin Panen ke Petani Wonokromo

Sasongko memperkirakan jumlah panen padi dan jagung di tahun ini hampir sama dengan tahun kemarin yang mencapai 900 ribu ton untuk padi dan 300 ribu ton untuk jagung

Untuk luas tanam padi sendiri mencapai 150 ribu hektar, sedangkan untuk jagung hanya 60 ribu hektar.

"Sebenarnya untuk jagung sudah cukup banyak yang panen, dari dua minggu lalu. Hasilnya baru akan kita rilis pada April mendatang kalau sudah terdata semuanya. Untuk jumlah hampir sama dengan tahun lalu perkiraan kami," katanya.

Sasongko menyampaikan jika pihaknya sudah mencoba meningkatkan hasil panen di DIY, namun karena jumlah lahan dari tahun ke tahun mulai berkurang, dan beralih fungsi menjadi perumahan, membuat peningkatan hasil pertanian tidak terlalu signifikan.

Baca: Petani di Gunungkidul Ini Berharap Harga Jagung Stabil setelah Panen Raya

"Target tetap karena pertimbangan lahan berkurang. Kalau ada kenaikan kecil sekali, penyebabnya alih fungsi lahan mencapai 200-300 hektar pertahun. Jumlah itu lumayan banyak. Kebanyakan Sleman dan Bantul untuk perumahan," terangnya.

Sedangkan untuk tanah puso sendiri, Sasongko menerangkan di DIY tidak ada untuk saat ini.

Hanya saja, beberapa saat lalu ada tanah yang lama tidak ditanami gara-gara terkena hama.

"Untuk lahan puso di DIY tidak ada. Kemarin lama tidak ditanami, sudah diupayakan ditanami pada hari minggu yang lalu. Kosong karena kena hama, kekeringan saya kira tidak ada. Itu kemarin di Sleman, tapi sedikit," katanya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved