Mengenali Karakteristik dan Potensi Bahaya Erupsi Gunung Merapi
Munculnya kubah lava baru menandai erupsi Merapi sudah memasuki fase magmatis.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Yang menjadi ukuran besarnya suatu erupsi adalah volume material yang dikeluarkan selama erupsi yang dinyatakan dalam skala VEI (Volcano Explosivity Index).
Setelah dipetakan, erupsi 11 Mei dan 21 Mei 2018 masing-masing menghasilkan material piroklastik sebesar 30.000 M3 dan 40.000 M3. Artinya ukuran besar erupsinya dalam skala VEI 1, di mana volume material yang dikeluarkan antara 10 ribu – 1 juta M3.
Bandingkan dengan erupsi 2010 dengan VEI 4, produk material yang dikeluarkan mencapai > 100 juta M3.
Erupsi dengan skala VEI 1 hanya mengakibatkan deformasi < 3 mm di puncak.
Sementara jaringan monitoring Merapi saat ini baru mampu mengukur hingga ketelitian 10 mm, sehingga perubahan 3 mm tidak terdeteksi.
Deformasi sebesar itu hanya bisa ditimbulkan oleh erupsi skala VEI 2 atau lebih, dengan mengeluarkan volume material > 1 juta M3. Itulah mengapa beberapa kali erupsi minor pasca erupsi 2010 tidak terdeteksi gejala awalnya.
Kejadian erupsi seperti ini bukan hal yang aneh. Banyak contoh erupsi minor/freatik di gunungapi lain di dunia yang tidak terdeteksi gejala awalnya sehingga tidak ada peringatan dini.
Contoh aktual di Gunung Ontake, Jepang yang meletus pada 27 September 2014 hingga menimbulkan korban 30 orang meninggal.
Proses erupsi yang terjadi di Gunung Merapi saat ini
Untuk menjelaskan proses erupsi perlu mengetahui sistem saluran pipa magma (plumbing system) Merapi dan bagaimana migrasi fluida magma ke permukaan.
Berdasarkan hiposenter gempa vulkanik Merapi, ditemukan zona aseismik pada kedalaman sekitar 1 km dari puncak, yang memisahkan lokasi gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal, diinterpretasikan sebagai kontong magma dangkal.
Sementara dapur magma diperkirakan pada kedalaman > 5 km dari puncak.
Perlu diketahui, migrasi magma ke permukaan dikontrol kandungan unsur volatile (yang mudah menguap) dalam magma yang didominasi oleh H2O, CO2 dan SO2.
Pada awal bergerak naik dari dapur magma, magma dalam kondisi tidak jenuh unsur volatile. Selama magma bergerak naik, akan mencapai batas kejenuhan, sedemikian sehingga kandungan unsur volatile awal sama dengan batas kelarutan.
Ketika tekanan menurun, magma menjadi superjenuh, mengakibatkan unsur volatile terpisah dari larutan, kemudian membentuk gelembung-gelembung gas (bubbles).
Ketika mencapai kantong dangkal, gelembung gas terakumulasi kemudian terjadi turbulensi yang menggerus dinding batuan yang melingkupinya.