Mengenali Karakteristik dan Potensi Bahaya Erupsi Gunung Merapi
Munculnya kubah lava baru menandai erupsi Merapi sudah memasuki fase magmatis.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Penyelidik Bumi Madya
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
PADA 11 Mei 2018 pukul 08.20 WIB, Gunung Merapi tiba-tiba erupsi tanpa ada peringatan dini. Sangat mengejutkan karena saat itu aktivitasnya dalam tingkat normal.
Akibatnya sebagian masyarakat lereng Merapi panik, hingga terjadi pengungsian spontan. Rupanya masyarakat masih trauma dengan erupsi tahun 2010 yang memakan korban 398 jiwa.
Setelah dilakukan evaluasi, lembaga yang berwenang yaitu Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), menaikkan tingkat aktivitasnya dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II) pada tanggal 21 Mei 2018.
Selang tiga bulan, pada 12 Agustus 2018 BPPTKG berhasil mendeteksi munculnya kubah lava baru melalui pemotretan udara menggunakan pesawat nirawak atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle).
Munculnya kubah lava baru menandai erupsi Merapi sudah memasuki fase magmatis.
BPPTKG Yogyakarta Sebut Merapi Saat Ini Memasuki Siklus Baru
Banyak pertanyaan di masyarakat terkait dengan erupsi Gunung Merapi saat ini.
Mengapa jenis letusannya berubah dan benarkah terjadi perubahan watak Merapi. Lalu bagaimana implikasi terhadap bahaya Gunung Merapi ke depan?
Betulkah watak Merapi berubah? Erupsi Gunung Merapi yang sudah dikenal, biasanya diawali munculnya kubah lava yang tumbuh sampai volume tertentu hingga kestabilannya terganggu kemudian longsor menimbulkan awan panas.
Erupsi semacam ini telah terjadi ratusan kali sehingga para ahli menyebut sebagai tipe Merapi. Erupsi Merapi 2010 telah merubah persepsi publik tentang watak gunung ini.
Gejala awal sebelum erupsi yang sangat kuat, baik seismic, deformasi maupun gas vulkanik, tetapi kubah lava tidak muncul sebagaimana terjadi pada erupsi-erupsi sebelumnya.
Fenomena Kubah Lava Gunung Merapi dan Dampak yang Ditimbulkan
Kemudian terjadi letusan eksplosif pertama 26 Oktober 2010 yang memakan korban 35 jiwa, termasuk almarhum Mbah Marijan. Setelah itu terjadi letusan beruntun hingga puncaknya terjadi pada 5 Nopember 2010.
Pasca erupsi 2010, terjadi paling tidak enam kali erupsi minor (nonmagmatis), tanpa didahului gejala awal yang jelas. Pola erupsi seperti ini tidak dijumpai dalam sejarah modern pengamatan Gunung Merapi, sehingga mengubah persepsi publik watak Merapi berubah.
Bila kita pelajari lebih jauh mengenai sejarah erupsi Merapi, erupsi besar mirip 2010 pernah terjadi pada tahun 1872.
Kemiripannya meliputi magnitude, gejala awal maupun aktivitas pasca erupsinya. Pasca erupsi 1872 juga terjadi beberapa kali erupsi minor (Voight, 2000), sebelum terjadi erupsi magmatis 1883.