Mengenali Karakteristik dan Potensi Bahaya Erupsi Gunung Merapi

Munculnya kubah lava baru menandai erupsi Merapi sudah memasuki fase magmatis.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Bramasto Adhy
Gunung Merapi mengalami hembusan dengan durasi 10-12 detik di Bronggang, Sleman, Sabtu (2/6/2018). 

Kedua erupsi besar tersebut disebabkan magma yang kaya gas vulkanik. Berdasarkan catatan sejarah erupsinya, sebetulnya watak Merapi tidak bersifat tunggal, tetapi mempunyai varian erupsi yang beragam seperti erupsi freatik, vulkanian, pembentukan kubah lava, Sub-Plinian dsb.

Dalam era Merapi Muda (> 2000 th yll) pernah terjadi erupsi besar, sector collaps, mirip erupsi Mount StHelens, USA, 1980, dengan menimbulkan awan panas mencapai 25 km dari puncak, dan meninggalkan bekas kawah Pasar Bubar saat ini.

Faktor yang mempengaruhi jenis dan besarnya erupsi

Ada tiga hal yang mempengaruhi besarnya erupsi gunungapi. Pertama, diferensiasi magma dari basa ke asam, kandungan silica (SiO2) dari rendah ke tinggi (>60%).

Magma dengan kandungan silica tinggi cenderung eksplosif. Kedua, laju pertumbuhan kubah lava. Erupsi dengan laju pertumbuhan kubah lava cepat dan volumenya besar, akan memicu terjadi awan panas yang besar.

Menelusuri Jejak Kedahsyatan Erupsi Merapi di Museum Sisa Hartaku

Ketiga, kandungan gas di dalam magma. Jika kandungan gas tinggi, akan cenderung  eksplosif. 

Diferensiasi magma tidak terjadi di Merapi, karena kandungan silica sejak dulu berkisar 52-56 %.

Faktor yang menentukan jenis dan besarnya erupsi adalah laju pertumbuhan kubah lava dan kandungan gas vulkanik. Erupsi tahun 1930/1931yang cukup besar disebabkan oleh pertumbuhan kubah lava yang cepat dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Sementara erupsi besar 1872 dan 2010, disebabkan kandungan gas yang sangat tinggi, di samping laju pertumbuhan kubah menjelang puncak erupsi yang sangat cepat mencapai 35 ribu M3 per detik (Pallister, 2010).

Gejala awal erupsi saat ini

Berdasarkan data monitoring sebelum erupsi, baik kegempaan, deformasi dan geokimia menunjukkan tidak ada peningkatan yang signifikan.

Dari kegempaan, gempa VT (Volcano Techtonic) < 1 kali/hari, sedangkan gempa frekuensi rendah maupun tremor yang berasosiasi dengan gerakan fluida tidak nampak.

Pengukuran deformasi, tidak ada penggelembungan tubuh gunung, artinya tekanan lemah. Sementara pengukuran emisi gas SO2 ada peningkatan hingga 200-300 ton/hr pada saat erupsi saja, sedangkan dalam kondisi normal emisi gas SO2 rata-rata < 100 ton/hari.

Mengapa demikian? Secara visual, erupsi 11 Mei dan 21 Mei 2018 nampak besar, karena tinggi kolom letusannya mencapai 5,5 km dan 7 km dari puncak.

Menjelang erupsi, ada getaran yang terasa hingga 10 km dari puncak Merapi, sehingga kesan masyarakat letusannya besar. Benarkah demikian?

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved