Idul Adha 1439 H

Begini Niat dan Tata Cara Lengkap Melaksanakan Shalat Idul Adha

Hukum shalat Idul Adha sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan, meskipun bukan wajib, baik bagi laki-laki ataupun perempuan.

Begini Niat dan Tata Cara Lengkap Melaksanakan Shalat Idul Adha
leuserantara.com
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Idul Adha 1439 H akan jatuh pada tanggal 22 Agustus 2018.

Saat itu, jemaah haji di Arab Saudi bergerak dari Muzdalifah menuju Mina, untuk melontar jumrah.

Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, sangat dianjurkan untuk melaksanakan shalat (biasa digunakan banyak orang, tetapi dalam KBBI adalah salat) Idul Adha dan menyembelih hewan qurban (biasa digunakan banyak orang, tetapi dalam KBBI adalah kurban).

Hukum shalat Idul Adha sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan, meskipun bukan wajib, baik bagi laki-laki ataupun perempuan.

Pelaksanaan shalat Idul Adha sedikit berbeda dengan shalat wajib lima waktu, salah satunya tidak didahului azan dan iqamah.

Salat Idul Adha ataupun Idul Fitri dilaksanakan setelah Matahari terbit hingga masuk waktu zuhur.

Namun, salat Idul Adha dianjurkan untuk mengawalkan waktu, agar memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat yang ingin menyembelih hewan kurban.

Salat Idul Adha dilaksanakan dua rakaat secara berjemaah dan terdapat khutbah setelahnya.

Namun bila tak bisa berjemaah karena terlambat atau halangan lain, maka dapat dilaksanakan di rumah, daripada tidak sama sekali.

Berikut niat dan tata cara lengkap shalat Idul Adha, sebagaimana disarikan dari kitab Fashalatan karya Syekh KHR Asnawi, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama asal Kudus, seperti dilansir NU online.

1. Niat

Shalat Idul Adha didahului niat.

Lafal niatnya adalah sebagai berikut:

أُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) لِلهِ تَعَــــــــالَى

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

2. Takbiratul Ihram

Setelah niat kemudian takbiratul ihram, lalu dilanjutkan membaca doa iftitah, kemudian takbir lagi hingga tujuh kali untuk rakaat pertama.

Di antara takbir-takbir itu dianjurkan membaca:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Artinya: “Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.”

Atau boleh juga membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”

3. Membaca Surat al-Fatihah

Setelah takbir adalah membaca al-Fatihah.

Kemudian dianjurkan membaca Surat al-Ghâsyiyah.

Berlanjut ke ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.

4. Takbir Lima Kali pada Rakaat Kedua

Saat posisi berdiri di rakaat kedua, takbir lagi sebanyak lima kali seraya mengangkat tangan.

Di antara takbir-takbir itu, lafalkan kembali bacaan seperti yang dijelaskan pada poin dua.

Berlanjut ke ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.

5. Yang Dilakukan setelah Salam

Setelah salam sehingga shalat Id selesai, jamaah dianjurkan tak buru-buru pulang, untuk mendengarkan khutbah Idul Adha hingga selesai.

Kecuali bila salat dilakukan sendirian. (*)

Penulis: say
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved