Enggan Meminta-minta, Mbah Warno Pilih Berdagang Baju Bekas di Usia Senjanya
Lelaki tua itu tengah duduk merenda waktu, menantikan beberapa helai baju yang ia jemur diatas besi pembatas jalan mengering.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribunjogja.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lelaki tua itu tampak termangu, duduk di atas trotoar jalan Batikan, Yogyakarta, Minggu (25/02/2018) siang.
Di sampingnya, tampak sebuah sepeda kayuh dengan berbagai macam buntelan dari plastik memenuhi keranjang dan boncengan sepeda.
Lelaki tua itu tengah duduk merenda waktu, menantikan beberapa helai baju yang ia jemur diatas besi pembatas jalan mengering.
Dalam penantian itu, tampak sesekali ia menggaruk rambut kepalanya yang hampir sebagian telah memutih dimakan waktu.
Ia mengenakan pakaian seadanya. Baju kaus lengan pendek dan celana hitam.
Tatkala bosan menghampiri, ia tampak berdiri, dengan langkah terbungkuk ia menghampiri besi pembatas jalan dan menyentuh baju yang ia jemur.
Tampak masih basah, ia kemudian duduk kembali. Ditempat semula. Beralaskan sandal yang ia lepas dari kakinya.
Ketika dihampiri Tribun Jogja, lelaki tua ini mengaku bernama Warno (78), ia berasal dari Sentulrejo, Wiragunan, Mergangsan, Yogyakarta.
Di usianya yang tak bisa dikatakan muda lagi, ia terpaksa harus mencari nafkah sendiri dengan berjualan baju bekas.
"Baju-baju ini habis saya cuci, mau saya jual di pasar Bringharjo, buat makan," ujar dia, sembari tersenyum.
Ia berpikir jualan baju bekas lebih baik daripada merepotkan buah hatinya. Apalagi sampai meminta-minta.
"Anak saya dua, semuanya sudah berkeluarga. Saya malu merepoti anak saya terus," ucapnya.
Demi pundi rupiah untuk mengganjal perutnya ia mengaku setiap hari berangkat dari rumah saat pagi buta.
Berbekal sepeda kayuh dan beberapa lembar baju yang dibuntel menggunakan plastik, ia berangkat menuju masjid Pakualaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mbah-warno-jualan-baju-bekas_20180225_165153.jpg)