Enggan Meminta-minta, Mbah Warno Pilih Berdagang Baju Bekas di Usia Senjanya
Lelaki tua itu tengah duduk merenda waktu, menantikan beberapa helai baju yang ia jemur diatas besi pembatas jalan mengering.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Disana dengan seizin takmir masjid, ia mengaku mencuci baju terlebih dahulu sebelum di jual di pasar.
"Saya cuci di masjid Pakualaman, udah izin dan boleh sama takmirnya, terus saya jemur disini (Jalan Batikan)," ungkapnya.
Ketika matahari bergeser sejengkal tombak, ia kemudian berangkat menjajakan pakaian bekas miliknya.
Pasar pertama yang ia tuju adalah pasar Gading, di deket Alun-alun kidul, Yogyakarta.
"kalalu disana tidak laku, menjelang sore saya jual di pasar Bringharjo," bebernya.
Raut mukanya tampak bersahaja, tak ada keluh kesah yang keluar dari mulutnya. Jualan hanya seadanya, dan tak meminta hasil lebih.
Baginya, bisa memenuhi makan setiap hari, sudah syukur luar biasa.
"Seadanya saja. Dari pada mengemis, malu saya," tuturnya, penuh kesahajaan.
Pakaian-pakaian yang ia cuci dan jual merupakan hasil pemberian dari orang.
Diceritakan Warno, ketika dia masuk kampung, banyak orang kaya yang memiliki banyak baju dan sudah tidak di pakai, sering kali memberikan kepada dirinya.
Dari pemberian itu, ia kemudian pilah-pilah, untuk dipakai sendiri dan dijual untuk makan.
"Kadang kan bagus-bagus bajunya. Sudah tidak dipakai. Diberikan ke saya, saya cuci terus saya jual," terang dia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mbah-warno-jualan-baju-bekas_20180225_165153.jpg)