Siapkah Indonesia Menyongsong Era Industri 4.0?

Indonesia juga tidak terkecuali harus menyiapkan SDM ahli agar tidak terjadi banyak pengangguran di era revolusi industri keempat

Editor: Ari Nugroho
uin-suka.ac.id
UIN sunan kalijaga 

Baca: UKDW Gelar Bioexpo Sebagai Ajang Promosi Produk Bioteknologi Kepada Masyarakat

"Konsekuensi era ini akan banyak profesi yang tidak berfungsi, jika tidak menyesuaikan keahliannya untuk bisa terkoneksi dengan cyber system. Pada era ini sebagian besar produksi dan  transaksi yang dilakukan manusia terkoneksi oleh sistem digital, yang diistilahkan Cyber Phisical System (CPS), Cyber Service, Cyber Object, Physical Objects," katanya.

Menurut Hendro, di Jerman, era ini disikapi dengan sinergi yang baik antara perguruan tinggi dan lembaga riset, industri, dan pemerintah.  

Di IIMEKIT tempatnya bekerja, ada bagian yang fokus pada inovasi teknologi.

"Setiap ada penemuan baru segera dipatenkan. Saat ini konsen melakukan riset bidang pengembangan teknik informatika dan teknik industri. Kedua bidang ini telah melahirkan sedikitnya 55 inovasi yang berhasil dipatennya, berupa lisensi software dan desain produk industri. Banyak perusahaan besar di Jerman memanfaatkan Karya-karya inovasi IIMEKIT untuk melahirkan produk-produk kebutuhan pasar," ungkapnya. 

IIMEKIT juga melakukan penyesuaian kurikulum (adaptasi transformasi kualifikasi SDM)  menyesuaikan kebutuhan industri 4.0. 

"Sementara suport dari Pemerintah Jerman  berupa suport dana maupun SDM pendamping (UMKM, IT Scuritas dan  standarisasi arsitektur infrastuktur IT). Pemerintah Jerman juga menentukan prioritas pengembangan SDM, yang diarahkan pada pengembangan teknologi dan bisnis," imbuhnya.

Dijelaskan Hendro, menyongsong era industri 4.0, Eropa dan Amerika sudah berlari. Bagaimana dengan Indonesia?

Baca: Mengejutkan! Di Antara Kelompok Negara Industri, Produktivitas Kerja di Jepang Paling Bontot

Menurut Hendro untuk bisa ikut berlari maka pengembangan SDM Indonesia hendaknya diarahkan pada upaya upaya memacu pengembangan UMKM, kemampuan networking dengan perusahaan-perusahaan besar, melakukan transformasi bisnis melalui IT, dan menggali kreativitas dan inovasi layanan baru  IT.

Kemudian, memperbaiki organisasi bisnis dan penguasaan big data, pengembangan industri dengan layanannya (misal industri pesawat dengan jasa maintenancenya), integrasi IT di semua bidang, prosentase SDM ahliengineering  dan penguasaan analisa data ditingkatkan.

Disamping itu dibutuhkan ahli-ahli TI yang mampu berkolaborasi lintas bidang, semangat belajar seumur hidup karena perubahan yang sangat cepat, memacu masyarakat memiliki jiwa interpreneurship dan berani mengambil resiko.

Didukung pemerintahan yang memiliki kebijakan memaksimalkan potensi daerah.

"Sementara sistem belajar era industri 4.0 antara lain : online learning, ujian online, learning analytics, bahan ajar menyesuaikan latar belakang (profil) peserta didik", demikian paparan Hendo.

Sementara itu Budi Saksono antara lain memaparkan tentang pentingnya mengembangkan industri bidang biotechnology dalam rangka memanfaatkan secara maksimal sumber daya alam untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved