Ratusan Warga Saksikan Prosesi Sakral Miyos Gongso

warga dari berbagai penjuru daerah sudah lebih dulu mengikuti prosesi udhik-udhik, yang dilangsungkan di Bangsal Ponconiti.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJGJA.COM / Azka Ramadhan
Keraton Yogyakarta mengadakan prosesi Miyas Gongso, Jumat (24/11/2017). Dalam tradisi tersebut, dua gamelan pusaka milik Keraton Yogyakarta, yakni gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga, dibawa dari Bangsal Ponconiti, komplek Keraton Yogyakarta, menuju Pagongan, yang berlokasi di halaman Masjid Gedhe Kauman. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ratusan masyarakat tampak memadati halaman Masjid Gedhe Kauman, pada Jumat (25/11/2017) malam.

Bukan tanpa sebab, warga berkumpul untuk menjadi saksi tradisi Miyos Gangsa, yang digelar oleh Keraton Yogyakarta.

Dalam tradisi tersebut, dua gamelan pusaka milik Keraton Yogyakarta, yakni gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga, dibawa dari Bangsal Ponconiti, komplek Keraton Yogyakarta, menuju Pagongan, yang berlokasi di halaman Masjid Gedhe Kauman.

"Ada dua gamelan. Dulu ada Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari. Tapi, saat perjanjian Giyanti, Guntur Madu diserahkan pada Kasultanan Yogyakarta, sementara Guntur Sari untuk Kasultanan Surakarta," ujar KRT Waseso Winoto.

"Supaya gamelan menjadi seperti sedia kala, Sri Sultan Hamengku Buwono I membuat duplikat Guntur Sari yang diberi nama Nagawilga," imbuhnya.

Hujan gerimis sama sekali tidak menghalangi masyarakat untuk berbondong-bondong menyambut dua gamelan pusaka tersebut.

Sekitar pukul 23.00 WIB, Kyai Guntur Madu sudah menempati Pagongan Kidul, sedangkan Kyai Nagawilaga ditempatkan di Pagongan Lor.

Sebelumnya, warga dari berbagai penjuru daerah sudah lebih dulu mengikuti prosesi udhik-udhik, yang dilangsungkan di Bangsal Ponconiti.

Udhik-udhik sendiri berisi uang receh pecahan Rp 500, kembang mawar, serta beras kuning, yang disebar oleh putri dalem.

Empat putri dalem, yakni GKR Mangkubumi, GKR Maduretno, GKR Hayu dan GKR Bendoro, turut serta dalam prosesi tersebut.

Udhik-udhik yang disebar, lantas diperebutkan olah masyarakat, abdi dalem keraton, serta para penabuh gamelan.

Benar saja, tidak mengenal tua, ataupun muda, seluruh warga yang datang, saling berebut udhik-udhik yang disebar itu.

Satu di antaranya adalah Sutiyah (58), warga Kulon Progo.

Ibu paroh baya tersebut, rela menembus hujan demi mengikuti prosesi tahunan tersebut

"Setiap tahun saya ikut berebut udhik-udhik, kadang dapat, kadang juga tidak. Alhamdulillah, tahun ini dapat dua (pecahan Rp 500). Tujuannya, ya, ngalap berkah," ucapnya.

Menariknya, prosesi tersebut juga menarik minat para wisatawan dari luar Yogyakarta.

Sebut saja, Yuli Cahriantini, warga Subang, Jawa Barat.

Dirinya sengaja menyempatkan diri datang ke komplek keraton, untuk menjadi saksi agenda nan sakral itu.

"Penasaran saja, kebetulan pas lagi di Yogyakarta. Dapet informasi dari akun sosial media keraton. Tapi, nggak dapat udhik-udhiknya, desak-desakan banget. Mungkin tahun depan bisa dicoba lagi," ujarnya sembari diikuti gelak tawa. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved