Bagi Pemain Saxophone Cantik Ini, Bermain Musik Ternyata Tidak Semudah yang Dibayangkan
Sambil menyelesaikan tugas akhirnya, anak kedua dari tiga bersaudara ini pun banyak terlibat dengan kegiatan musik di Yogyakarta.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Gaya Lufityanti
“Kebanyakan orang melihat main musik itu mudah, tapi sebenarnya tidak sesimpel yang terlihat,” jelasnya.
Sambil menyelesaikan tugas akhirnya, anak kedua dari tiga bersaudara ini pun banyak terlibat dengan kegiatan musik di Yogyakarta.
Sempat mendirikan band Youniverse, ia didaulat untuk live perform reguler di cafe maupun hotel sejak tahun 2014 hingga 2017.
Sejak hengkang dari band tersebut, Tissa kini banyak menerima tawaran untuk project bersama maupun tampil di beberapa event besar, satu di antaranya manggung bersama Shakey Band saat Prambanan Jazz 2017 lalu.
” Bagiku, musik itu hobi yang menghasilkan uang. Awalnya sekedar hobi saja, terus aku dalami ternyata menghasilkan uang, jadi semuanya aku lakukan tanpa terbebani karena aku senang,” ungkap putri Tyn Ispriharso dan Nita Lucida ini.
Terus Berlatih
Mendalami alat musik saksofon sejak tahun 2011, rupanya tidak membuat Tissa berpuas diri.
Hingga saat ini, ia merasa harus rajin latihan, terutama untuk melatih pernafasannya untuk meniup saksofon yang terbilang berat.
Setidaknya 15 menit dalam sehari, ia melatih nada-nada panjang untuk memantapkan ambasirnya.
Tidak jarang, ia melakukan olahraga renang untuk menempa pernafasannya.
“Pernah waktu bulan puasa sama sekali tidak pegang saksofon, sekalinya niup rasanya berat sekali jadi harus latihan dari awal lagi. Harus latihan lagu-lagu baru juga, karena sebagai session player kita dituntut untuk bisa apa saja,” imbuh dara berpostur tnggi badan 164 cm dan berat badan 51 kg ini.
Segala pengorbanan yang ia lakukan pun tidak berujung sia-sia.
Ia mengaku musik membuatnya lebih disiplin dan menambah relasi yang lebih luas.
Bahkan ia mengaku lebih nyaman bermusik meskipun kini tidak terikat dengan band manapun.
“Kalau dulu ngeband reguler-an bisa empat kali dalam seminggu, ditambah weekend pasti ada event. Saat ini lebih banyak waktu luang sehingga bisa meluangkan kesempatan dengan keluarga dan orang terdekat, kebetulan juga sedang menyelesaikan skripsi. Bagiku, quality time itu penting, waktu harus ditata dengan betul karena waktu yang terlewat tidak bisa dikembalikan,” kata dara berambut panjang ini.
Seperti musisi-musisi lain, ia berharap ke depan bisa memproduksi karya sendiri.
Tissa membayangkan, ia dapat melahirkan karya instrumental yang meneduhkan hati.
“Rasanya belum pantas disebut musisi jika belum punya karya, semoga ke depan karyaku bisa diterima dengan baik,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tissa-tavini_20170909_160215.jpg)