Bagi Pemain Saxophone Cantik Ini, Bermain Musik Ternyata Tidak Semudah yang Dibayangkan

Sambil menyelesaikan tugas akhirnya, anak kedua dari tiga bersaudara ini pun banyak terlibat dengan kegiatan musik di Yogyakarta.

Tayang:
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Bramasto Adhy
tissa tavini 

TRIBUNJOGJA.COM - Kecintaan Tissa Tavini terhadap musik tidak terbantahkan lagi.

Tissa sapaan akrabnya, total terjun ke dunia musik baik dari pendidikan maupun aktifitasnya.

Mengawali pengalaman musiknya sejak kecil, Tissa kerap mencoba-coba semua alat musik secara otodidak.

Ya, alat musik dari gitar hingga keyboard ia pelajari semua.

Hingga ia meyakinkan diri untuk mendalami musik di Sekolah Menengah Musik (SMM).

Awalnya rencana ini sempat ditentang orangtuanya lantaran stigma negatif tentang pemusik.

”Tadinya orangtua sempat khawatir terhadap pergaulanku kalau nantinya jadi pemusik. Tapi aku pikir, musik tidak melulu menjadikan seseorang itu ‘nakal’, dan orang kalau mau ‘nakal’ juga tidak harus di musik. Karenanya aku minta orangtuaku untuk percaya dan aku berani bertanggung jawab atas rencana yang kubuat,” kenang dara kelahiran Yogyakarta, 20 November 1995 ini.

Akhirnya keputusan Tissa untuk menekuni pendidikan musik direstui orangtuanya.

Tak disangka, di sekolah ini lah, Tissa berkenalan dengan alat musik tiup saksofon yang dicintainya hingga kini.

tissa tavini
tissa tavini (dokumen pribadi)

Tidak sengaja awalnya, ia sempat melihat sebuah drama Korea yang menampilkan scene sang aktor memainkan saksofon dengan suara yang sangat unik.

Rasa penasarannya pun meningkat mengenai saksofon, alatnya seperti apa hingga bagaimana meniupnya.

Pertanyaan-pertanyaan ini pun ia jawab selama menempuh pendidikan di SMM.

”Buat aku, bentuk dan suara saksofon itu seksi banget, baru sedikit juga perempuan yang memainkan saksofon. Sebenarnya alat ini fleksibelbanget, bisa memainkan nada yang enerjik, bisa galak juga, tapi bisa galau juga, tergantung genre yang dibawakan,” paparnya.

Mengambil jurusan saksofon saat SMM, membuat Tissa membulatkan tekad untuk melanjutkan studi musiknya di Institut Seni Indonesia (ISI) dengan mengambil jurusan yang sama.

Baginya, memainkan musik tidaklah lengkap jika tidak didukung dengan pendalaman teori.

“Kebanyakan orang melihat main musik itu mudah, tapi sebenarnya tidak sesimpel yang terlihat,” jelasnya.

Sambil menyelesaikan tugas akhirnya, anak kedua dari tiga bersaudara ini pun banyak terlibat dengan kegiatan musik di Yogyakarta.

Sempat mendirikan band Youniverse, ia didaulat untuk live perform reguler  di cafe maupun hotel sejak tahun 2014 hingga 2017.

Sejak hengkang dari band tersebut, Tissa kini banyak menerima tawaran untuk project bersama maupun tampil di beberapa event besar, satu di antaranya manggung bersama Shakey Band saat Prambanan Jazz 2017 lalu.

” Bagiku, musik itu hobi yang menghasilkan uang. Awalnya sekedar hobi saja, terus aku dalami ternyata menghasilkan uang, jadi semuanya aku lakukan tanpa terbebani karena aku senang,” ungkap putri Tyn Ispriharso dan Nita Lucida ini. 

Tissa Tavini
Tissa Tavini (TRIBUNJOGJA.COM / Bramasto Adhy)

Terus Berlatih

Mendalami alat musik saksofon sejak tahun 2011, rupanya tidak membuat Tissa berpuas diri.

Hingga saat ini, ia merasa harus rajin latihan, terutama untuk melatih pernafasannya untuk meniup saksofon yang terbilang berat.

Setidaknya 15 menit dalam sehari, ia melatih nada-nada panjang untuk memantapkan ambasirnya.

Tidak jarang, ia melakukan olahraga renang untuk menempa pernafasannya.

“Pernah waktu bulan puasa sama sekali tidak pegang saksofon, sekalinya niup rasanya berat sekali jadi harus latihan dari awal lagi. Harus latihan lagu-lagu baru juga, karena sebagai session player kita dituntut untuk bisa apa saja,” imbuh dara berpostur tnggi badan 164 cm dan berat badan 51 kg ini.

Segala pengorbanan yang ia lakukan pun tidak berujung sia-sia.

Ia mengaku musik membuatnya lebih disiplin dan menambah relasi yang lebih luas.

Bahkan ia mengaku lebih nyaman bermusik meskipun kini tidak terikat dengan band manapun.

“Kalau dulu ngeband reguler-an bisa empat kali dalam seminggu, ditambah weekend pasti ada event. Saat ini lebih banyak waktu luang sehingga bisa meluangkan kesempatan dengan keluarga dan orang terdekat, kebetulan juga sedang menyelesaikan skripsi. Bagiku, quality time itu penting, waktu harus ditata dengan betul karena waktu yang terlewat tidak bisa dikembalikan,” kata dara berambut panjang ini.

Seperti musisi-musisi lain, ia berharap ke depan bisa memproduksi karya sendiri.

Tissa membayangkan, ia dapat melahirkan karya instrumental yang meneduhkan hati.

“Rasanya belum pantas disebut musisi jika belum punya karya, semoga ke depan karyaku bisa diterima dengan baik,” tutupnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved