Bom Mobil, Bom Ransel, Bom Rompi, Bom Melon, Bom Lontong
Catatan sejarah sejak 2000 hingga 2016, ini harus jadi pelajaran, bahwa dari masa ke masa, para fanatik kekerasan selalu ada.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ikrob Didik Irawan
Ketika ratusan turis asing/domestik berlarian keluar kafe, saat itulah bom mobil hasil rakitan Ali Imron, Dulmatin, Sawad, Abdul Ghoni, dan Dr Azahari meledak bersama sopirnya.
Cara kerja yang sangat terencana, sistematis, dan hampir sempurna.
Al Jamaah al Islamiyah
Fanatik Al Jamaah al Islamiyah (JI), sel Al Qaeda di Indonesia, telah mengobarkan peperangan. Warga asing jadi target utama serangan.
Tapi warga lokal, muslim maupun non muslim yang tewas dan luka-luka, tak kalah banyaknya.
Inilah kasus bom bunuh diri pertama yang tercatat di era reformasi. Sesudah kejadian ini, pasukan antiteror Polri yang mulai bergigi menggelar perburuan dan aksi sapu bersih. Mula-mula Amrozi diciduk di rumahnya.
Dialah pembeli mobil L-300 yang dipakai sebagai bom mobil. Selanjutnya polisi memburu dan meringkus Muklas alias Ali Ghufron di Klaten.
Imam Samudra diciduk di Pelabuhan Merak, saat hendak kabur menuju Sumatera.
Ali Imron ditangkap di sebuah pulau di Kaltim. Jihadis-jihadis muda yang membantu operasi ini satu per satu digelandang ke kantor polisi.
Namun sebagian tokoh-tokoh pentingnya, seperti Dr Azahari, Noordin Mohd Top, Dulmatin, dan Umar Patek, lolos.
Mereka akan melanjutkan petualangannya dalam beberapa tahun berikutnya. Pengalaman tiga kali serangan bom berskala besar menunjukkan, setiap aksi selalu meninggalkan jejak dan sidik jari bom.
Sidik jari bom adalah tanda, petunjuk dan ciri yang sangat khas di setiap bom rakitan yang meledak, yang bisa mengarahkan ke siapa pelaku dan pembuatnya.
Ciri khas itu bisa diketahui dari jenis detonator, firing device, baterai, jam yang jadi pemicu otomatis.
Sidik jari bom juga bisa diketahui dari bahan peledak kimia yang dipakai, chasing atau kontainer bomnya. Bom Kedubes Filipina 2001memiliki ciri penggunaan peledak C4 atau RDX yang sangat berbahaya.
Bahan peledak ini sangat terbatas, dan dikenal dikuasai kelompok militan di Filipina selatan. Bom Bali 2002 bahan peledaknya menggunakan kombinasi TNT, RDX dan potasium klorat, sulfur dan arang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/grafis-bom_dhjfdhs_20160122_132426.jpg)