Ulat pun Bisa Menjadi Lauk Istimewa

Ulat dan kepompong itu dapat diolah dengan cara mencucinya terlebih dahulu sehingga benar-benar bersih dan kotorannya hilang.

Ulat pun Bisa Menjadi Lauk Istimewa
dok pri
Avista Febriyani, Mahasiswi PGSD Sarjanawiyata Tamansiswa

GUNUNGKIDUL merupakan kabupaten di Provinsi DIY yang terkenal dengan wisatanya. Selain itu hal unik yang dimiliki adalah kebiasaan mengolah berbagai jenis serangga sebagai makanan, seperti belalang, dan laron.

Bahkan di pinggiran sepanjang jalan Wonosari menuju arah pantai, terdapat banyak penjual belalang goreng dengan berbagai rasa.

Selain mengolah berbagai macam serangga untuk dijadikan makanan, mereka juga mengolah hewan lain yang unik seperti ulat.

Ulat merupakan hewan yang tidak asing lagi bagi petani karena sudah menjadi musuh sejak lama. Ulat sering mengganggu berbagai tumbuhan yang dimiliki petani misalnya cabai, padi, dan jagung.

Namun selain menjadi musuh bebuyutan petani, ulat juga dapat menjadi sesuatu yang disenangi petani, yaitu diolah menjadi lauk istimewa.

Ulat ini bukanlah ulat yang biasa kita jumpai setiap hari, namun ulat ini hanya muncul ketika musim hujan saja.

Ulat ini ada yang bewarna hitam, dan ada yang bewarna hijau.

Selain itu ulat ini bukanlah ulat yang berbulu. Biasanya terdapat pada daun pohon-pohon besar seperti jati, akasia, bauhinia, dan gamal.

Adalah Wakidi, seorang petani di Dusun Gude, Desa Sumberwungu, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, yang senang mencari dan mengolah ulat sebagai lauk maupun menjualnya.

Selain mengolah tanah atau mencari pakan, di ladangnya ia juga mencari ulat di pohon-pohon besar di sekelilingnya. Ulat-ulat yang enak untuk dimakan adalah yang sudah terlihat besar badannya.

Halaman
12
Editor: Ikrob Didik Irawan
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved