Bambu Membiayai Kuliah Saya

BRAJAN adalah sebuah desa wisata di ujung barat Sleman, tepatnya di Desa Brajan VIII, Sendangagung, Minggir, KabupatenSleman, DIY

dok
Restu Sulanjar, Mahasiswi PGSD Sarjanawiyata Tamansiswa 

BRAJAN adalah sebuah desa wisata di ujung barat Sleman, tepatnya di Desa Brajan VIII, Sendangagung, Minggir, KabupatenSleman, DIY.

Eksistensi Brajan sebagai desa wisata kerajinan bambu telah diakui di Indonesia dan mancanegara, di mana hingga kini Desa Brajan mampu menghasilkan lebih dari 150 jenis kerajinan dari bambu.

Adapun Suharsono adalah salah satu warga Desa Brajan yang berprofesi sebagai perajin bambu, yang berumur 55 tahun.

Sedangkan Sarindi, istrinya, mempunyai usaha sampingan yaitu berjualan nasi setiap pagi.

Usaha keluarga ini dimulai pada tahun 1987, menghasilkan berbagai kerajinan simpel, menarik dan bernilai guna dari bambu seperti besek, tempat hantaran, bakul nasi, dan berkembang sampai sekarang.

Keseharian keluarga ini adalah memproduksi kerajinan bambu sesuai pesanan, tetapi pesanan belum tentu datang setiap waktu.

Jadi, pesanan tidak selalu ada untuk keluarga ini. Saat ada pesanan kerajinan, Suharsono berkerja dengan bantuan saya, anak perempuannya.

Penghasilan Suharsono bisa dikatakan cukup untuk kebutuhan harian keluarganya. Satu minggu sekitar Rp200.000, dan jika ada pesanan bisa sekitar Rp350.000.

Meskipun penghasilan beliau tidak seperti seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang gajinya berjuta-juta, tetapi Suharsono tetap bersemangat dalam berkarya menghidupi keluarga.

Sekarang ini biaya sekolah cukup mahal, apalagi untuk masuk ke perguruan tinggi di Yogyakarta. Tetapi, hal itu tidak menyurutkan niat beliau untuk menyekolahkan anak sampai setinggi mungkin.

Orang lain selalu beranggapan "Mana mungkin seorang pengrajin bambu bisa menyekolahkan anak sampai tingkat perguruan tinggi?"

Semua orang menganggap Suharsono rendah karena dinilai tidak mampu (secara ekonomi) dan kekurangan dana.

Celotehan orang-orang dijadikan Suharsono motivasi untuk membuktikan bahwa "Keluarga berprofesi sebagai pengrajin bambu dapat menyekolahkan anak setinggi mungkin."

Alhamdulillah, berkat semangat, keuletan, kesabaran dan menabung menyisihkan uang setiap minggu, Suharsono dapat menyekolahkan anak perempuannya hingga ke perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

Saya, anak semata wayang dari Suharsono dan Sarindi, saat ini dapat menempuh pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved