Prosesi Grebeg, Ritual Rutin Wujud Eksistensi Budaya Keraton Yogyakarta
Upacara adat yang identik dengan adanya gunungan ini dilaksanakan tiga kali dalam setahun.
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Muhammad Fatoni
"Banyak peristiwa menarik yang dapat saya tangkap di acara Grebeg. Banyak sekali moment yang bisa direspons, mulai dari masyarakat yang saling berebut, prajurit keraton yang mengawal gunungan, dan hal-hal menarik lainnya," ujar mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta tersebut.
Penghulu Keraton Masjid Gede Kauman, KRT Kamaludiningrat, menuturkan dalam setiap upacara Grebeg ada tiga jenis gunungan yang disiapkan oleh Keraton, yakni Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, dan Gunungan Depak.
Gunungan Lanang berisikan hasil bumi, seperti buah dan sayur-sayuran, sedangkan Gunungan Depak berisikan beragam makanan olahan yang siap dimakan, seperti rengginan.
"Prosesi Grebeg ini adalah bentuk sodaqoh yang dilakukan Sultan kepada masyarakatnya. Karena Yogyakarta ini adalah wilayah agraris, maka bentuk sodaqohnya adalah hasil bumi," ujar KRT Kamaludiningrat.
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk gunungan disetiap grebeg jumlahnya tidak selalu sama. Biasanya di Grebeg Mulud bersamaan dengan diselenggarakanya Sekaten, jumlah gunungannya paling banyak.
Upacara Grebeg diawali dengan kirab bregodo (prajurit) Keraton. Kemudian Gunungan akan keluar dari Keraton melalui Bangsal Pegelaran. Sebagai tanda akan keluarnya Gunungan dari Keraton, beberapa Bregodo akan melakukan tembakan salvo.
Selepas keluar dari Keraton, Gunungan diusung oleh puluhan abdi dalem melewati alun-alun menuju ke tiga tempat, yakni pelataran Masjid Gede Kauman, Komplek Kepatihan, dan Pura Pukualaman. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/grebeg1_20150924_153940.jpg)