Prosesi Grebeg, Ritual Rutin Wujud Eksistensi Budaya Keraton Yogyakarta

Upacara adat yang identik dengan adanya gunungan ini dilaksanakan tiga kali dalam setahun.

Tayang:
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Hamim Thohari

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebagai kerajaan Islam yang hingga saat ini masih eksis keberadaannya, Keraton Yogyakarta masih terus menyelenggarakan sejumlah prosesi yang berkaitan dengan perayaan hari besar Islam.

Dan Grebeg Keraton Yogyakarta adalah satu upacara adat yang cukup dikenal masyarakat dan hingga saat ini masih terus diselenggarakan.

Upacara adat yang identik dengan adanya gunungan ini dilaksanakan tiga kali dalam setahun.

Yakni Grebeg Mulud yang diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabiulawal.

Yang kedua adalah Grebeg Syawal, yang diselenggarakan untuk memperingati Idul Fitri.

Kegiatan yang ketiga adalah Grebeg Besar, yaitu prosesi untuk memperingati Idul Adha.

gunungan

Prosesi Grebeg selalu dihadiri ratusan masyarakat yang ingin mendapatkan isi dari gunungan tersebut.

Bagi sebagian masyarakat, isi gunungan tersebut diyakini mampu membawa dan memberikan berkah bagi mereka yang mendapatkannya.

Sementara wisatawan dan penggemar fotografi, Grebeg adalah satu agenda yang layak masuk dalam daftar kunjungan.

Banyak hal menarik dan unik yang dapat anda temui dalam upacara ini.

Mulai dari persiapan pembuatan gunungan hingga acara puncaknya dimana gunungan tersebut akan di doakan oleh Penghulu Keraton Masjid Gede Kauman, dan kemudian diperebutkan oleh warga.

Setiap tahunnya, antusiasme warga untuk memperebutkan gunungan juga tidak pernah surut.

Hal tersebut yang membuat Pristia Nur Akbar, seorang pegiat fotografi di Yogyakarta, selalu menyempatkan diri untuk berburu foto pada tiap gelaran Grebeg.

"Banyak peristiwa menarik yang dapat saya tangkap di acara Grebeg. Banyak sekali moment yang bisa direspons, mulai dari masyarakat yang saling berebut, prajurit keraton yang mengawal gunungan, dan hal-hal menarik lainnya," ujar mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta tersebut.

grebeg

Penghulu Keraton Masjid Gede Kauman, KRT Kamaludiningrat, menuturkan dalam setiap upacara Grebeg ada tiga jenis gunungan yang disiapkan oleh Keraton, yakni Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, dan Gunungan Depak.

Gunungan Lanang berisikan hasil bumi, seperti buah dan sayur-sayuran, sedangkan Gunungan Depak berisikan beragam makanan olahan yang siap dimakan, seperti rengginan.

"Prosesi Grebeg ini adalah bentuk sodaqoh yang dilakukan Sultan kepada masyarakatnya. Karena Yogyakarta ini adalah wilayah agraris, maka bentuk sodaqohnya adalah hasil bumi," ujar KRT Kamaludiningrat.

grebeg

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk gunungan disetiap grebeg jumlahnya tidak selalu sama. Biasanya di Grebeg Mulud bersamaan dengan diselenggarakanya Sekaten, jumlah gunungannya paling banyak.

Upacara Grebeg diawali dengan kirab bregodo (prajurit) Keraton. Kemudian Gunungan akan keluar dari Keraton melalui Bangsal Pegelaran. Sebagai tanda akan keluarnya Gunungan dari Keraton, beberapa Bregodo akan melakukan tembakan salvo.

grebeg

Selepas keluar dari Keraton, Gunungan diusung oleh puluhan abdi dalem melewati alun-alun menuju ke tiga tempat, yakni pelataran Masjid Gede Kauman, Komplek Kepatihan, dan Pura Pukualaman. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved