Penyemayaman Api Dharma di Candi Mendut
Sejumlah Bhiksu dan Bhiksuni melakukan pradaksina atau mengelilingi candi Mendut sebanyak tiga kali, sebelum menyemayamkan api dharma atau api abadi.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: oda
Sebelum penyemayaman api, air berkah dibawa ke pelataran candi oleh ratusan biksu, biksuni dan panitia dari Walubi, Minggu (31/5/2015).
Air suci itu diambil oleh puluhan bhiksu dari 13 majelis, pagi harinya. Para bhiksu tersebut berdatangan dari seluruh Indonesia, dan sebagian lainnya berasal dari negara-negara asing seperti Nepal, dan Thailand.
Mereka membawa air berkah menuju altar Candi Mendut. Di altar yang terdapat patung Sidharta Gautama itu, air berkah dituangkan ke dalam kendi-kendi di altar sebelah barat Candi Mendut.
Setelah itu, para biksu dan umat Buddha yang berasal dari berbagai sangha serta perwakilan majelis di dalam agama Buddha bergantian melakukan puja bakti dengan pembacaan parita.
“10.000 botol air berkah yang diambil dari mata air Jumprit merupakan simbol menyucikan diri dan membuat kesuburan dalam kehidupan. Air ini juga lambang kedamaian yang dipakai sebagai sarana puja bakti untuk kedamaian hati,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha (Walubi), Arief Harsono.
Bhiksu Samantha Kusala dari Sangha Mahayana mengatakan, simbol air bisa menjadi bahan refleksi dari bangsa Indonesia yang selama ini masih diliputi beragam konflik dengan sesama masyarakatnya sendiri.
Dengan meniru sifat air, semestinya warga menjadi cair, melebur dengan sesama sebagai satu keluarga.
“Sifat air yang selalu turun ke tempat yang lebih rendah adalah simbol dari kerendahan hati. Karakteristik air inilah, sepatutnya ditiru oleh umat manusia dengan tidak mengunggulkan diri sendiri, dan selalu memiliki toleransi, menghargai semua makhluk ciptaan Tuhan,” tandasnya. (Tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penyemayaman-api-abadi_20150601_213447.jpg)