Penyemayaman Api Dharma di Candi Mendut

Sejumlah Bhiksu dan Bhiksuni melakukan pradaksina atau mengelilingi candi Mendut sebanyak tiga kali, sebelum menyemayamkan api dharma atau api abadi.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: oda
Tribunjogja.com/Agung Ismiyanto
Sejumlah Bhiksu dan Bhiksuni melakukan pradaksina atau mengelilingi candi Mendut sebanyak tiga kali. Ritual itu dilakukan sebelum menyemayamkan api dharma atau api abadi yang diambil dari Mrapen, Kabupaten Grobogan. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sejumlah Bhiksu dan Bhiksuni melakukan pradaksina atau mengelilingi candi Mendut sebanyak tiga kali, Senin (1/6/2015) malam.

Ritual itu dilakukan sebelum menyemayamkan api dharma atau api abadi yang diambil dari Mrapen, Kabupaten Grobogan.

Api abadi itu dibawa oleh para Bhiksu dan Bhiksuni dari berbagai sangha dan majelis yang ada di Indonesia ke bangunan inti Candi Mendut. Di bangunan itu sudah disemayamkan pula air berkah yang diambil dari mata air Jumprit, Kabupaten Temanggung, Minggu (31/5/2015) lalu.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, penyemayaman api dharma ini tidak berbarengan dengan air berkah.

Sebelum menyemayamkan api dharma itu, lantunan doa dan paritta (pujian) menggema di pelataran Candi Mendut. Doa-doa tersebut dipanjatkan oleh para Bhiksu dan Bhiksuni hingga suasana terlihat sakral.

Hal itu terlihat dari sikap para umat Buddha yang tampak khusyuk mengikuti pembacaan doa tersebut.

Penyemayaman tersebut mengawali rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2559 BE/ tahun 2015, sebelum nantinya dibawa ke Candi Borobudur untuk diikutsertakan dalam detik-detik Waisak, Selasa (2/5/2015) yang jatuh pada pukul 23.48.18 WIB.

“Api abadi bagi umat Buddha merupakan simbol semangat dan energi dalam diri manusia. Api sebagai penerang. Setiap manusia memiliki api kecil yang sejatinya memberikan manfaat bagi kehidupan,” ujar pimpinan majelis Sangha Mahayana, Bhiksuni Virya Guna, Senin (1/6/2015) malam.

Dia menjelaskan, seringkali api kecil itu tertutup oleh dosa dan sifat iri hari. Padahal, api kecil seharusnya dipelihara. Namun, api itu kadang menjadi besar, berwujud emosi, yang justru berbahaya.

“Maka, ini yang harus dipelihara yakni benih kebuddhaan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, dia mengatakan, prosesi penyemayaman air berkah dan api abadi untuk kali ini tidak bersamaan. Menurutnya, hal tersebut dimaksudkan agar waktu prosesi lebih longgar.

“Tidak ada masalah dengan perbedaan itu. Sehingga, waktu prosesi penyemayaman air berkah jadi lebih longgar,” katanya.

Virya Guna menjelaskan, air berkah dan api abadi selanjutnya akan dikirab oleh ribuan umat Buddha dari seluruh Indonesia menuju Candi Agung Borobudur.

Mereka akan berjalan menempuh jarak sekitar 6 kilometer mulai Candi Mendut melewati kawasan Candi Pawon hingga zona 1 Candi Borobudur.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved