Etika Makan di Jepang: Ini 5 Hal Sepele yang Sering Dianggap Tidak Sopan
Salah satu kesalahan fatal dalam etika makan di Jepang adalah menancapkan sumpit secara tegak lurus di tengah mangkuk nasi.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM - Jepang adalah negara yang sangat menjunjung tinggi tata krama, terutama dalam hal kuliner. Bagi masyarakat Jepang, cara seseorang menyantap makanan mencerminkan rasa hormat mereka terhadap koki, bahan makanan, dan tradisi itu sendiri.
Wisatawan sering kali tanpa sengaja melakukan kesalahan kecil yang dalam budaya setempat dianggap kurang sopan atau bahkan tabu.
Memahami etika dasar di meja makan bukan hanya soal formalitas, melainkan cara terbaik untuk menghargai keramah-tamahan (omotenashi) yang diberikan oleh tuan rumah.
1. Pantangan Meletakkan Sumpit Secara Vertikal (Tate-bashi)
Salah satu kesalahan fatal dalam etika makan di Jepang adalah menancapkan sumpit secara tegak lurus di tengah mangkuk nasi.
Tindakan ini dikenal dengan istilah tate-bashi. Dalam tradisi Jepang, cara ini hanya dilakukan saat ritual pemakaman sebagai persembahan bagi orang yang telah meninggal.
Melakukannya di restoran atau rumah makan dianggap membawa sial dan sangat tidak sopan. Jika ingin meletakkan sumpit, gunakanlah hashioki (sandaran sumpit) atau letakkan secara horizontal di tepi piring.
2. Larangan Memindahkan Makanan Antarsumpit (Hashi-watashi)
Menerima atau memindahkan makanan langsung dari satu pasang sumpit ke sumpit orang lain (hashi-watashi) adalah tindakan yang sangat dilarang.
Serupa dengan poin sebelumnya, gerakan ini menyerupai ritual pengumpulan tulang setelah kremasi.
Jika ingin berbagi makanan, letakkan makanan tersebut di piring kecil (torizara) milik orang lain terlebih dahulu, barulah mereka bisa mengambilnya sendiri.
3. Tidak Mengangkat Mangkuk Saat Makan
Berbeda dengan budaya Barat yang membiarkan piring tetap di meja, di Jepang adalah hal yang sopan (bahkan dianjurkan) untuk mengangkat mangkuk kecil berisi nasi atau sup mendekati mulut.
Namun, hal ini tidak berlaku untuk piring yang berukuran besar. Makan sambil membungkukkan badan terlalu rendah ke arah meja tanpa mengangkat mangkuk sering kali dianggap kurang elegan dalam budaya Jepang.
4. Menggosokkan Sumpit Kayu Sekali Pakai (Waribashi)
Banyak orang asing memiliki kebiasaan menggosok-gosokkan kedua batang sumpit kayu setelah dipisahkan untuk menghilangkan serat kayu yang tersisa.
Di Jepang, tindakan ini secara tidak langsung memberi pesan kepada pemilik restoran bahwa sumpit yang mereka sediakan berkualitas murah atau buruk.
Jika memang terdapat serat kayu, cukup bersihkan secara halus dengan tangan tanpa harus menciptakan gerakan yang menarik perhatian.
5. Memasukkan Sumpit ke Dalam Mulut Saat Tidak Ada Makanan (Neburi-bashi)
Memasukkan sumpit ke dalam mulut saat tidak mengambil makanan, seperti menggigit, menjilat, atau menghisap ujung sumpit, dianggap tidak sopan dan tidak higienis dalam budaya makan Jepang.
| MBG Bakal Difokuskan pada Anak Kurang Gizi, Pakar UMY Ungkap Prioritas Sasaran |
|
|---|
| Buntut Keracunan Massal di SMPN 3 Jetis Bantul, BGN DIY Hentikan Sementara Operasional SPPG |
|
|---|
| Sekda DIY Peringatkan Pelaksana Program MBG di Lapangan: Jangan Rusak Upaya Mitigasi Stunting |
|
|---|
| Anggota DPRD Kulon Progo Nilai Rencana Fokus MBG untuk Anak Kurang Gizi Lebih Tepat Sasaran |
|
|---|
| Tanggapi Arahan Presiden, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo Usul MBG Difokuskan ke Anak Baduta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kabukicho-Shinjuku-Tokyo.jpg)