Mengenal Aneka Jenang, Makanan Tradisional Sarat Makna

Tidak hanya menjadi camilan, jenang juga memiliki makna filosofis yang...

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Tribunnews.com
Ilustrasi aneka jenang. Jenang merupakan salah satu jajanan tradisional yang tetap memiliki banyak penggemar dari dulu hingga sekarang. 

6. Jenang Arab

Perpaduan budaya Arab dan Jawa terlihat dari jenang ini.

Menggunakan bahan dasar terigu, gula merah, dan rempah-rempah seperti kayu manis serta kapulaga, rasanya manis hangat dan unik.

 

7. Jenang Garut

Dibuat dari tepung garut, gula palem, dan santan.

Teksturnya lembut dengan cita rasa ringan, cocok untuk camilan sore hari.

 

8. Jenang Lemu

Jenang ini terbuat dari beras yang dimasak bersama santan, daun salam, dan serai.

Aromanya harum dan rasanya gurih, sering disajikan dalam acara selamatan keluarga.

 

9. Jenang Sengkolo

Jenang ini melambangkan tolak bala atau pembersihan diri.

Terbuat dari campuran beras ketan, santan, dan gula merah yang dimasak hingga kental.

 

10. Jenang Dodol Ketan

Bentuknya lebih padat menyerupai dodol.

Terbuat dari tepung ketan putih dan hitam, santan, gula merah, dan vanili.

Setelah matang, biasanya dipotong-potong kecil dan dikeringkan.

 

Makna Warna dan Penyajian Jenang

 

Selain rasa, warna dalam jenang juga punya makna filosofis. 

Warna putih melambangkan kesucian, cokelat dari gula merah menggambarkan bumi dan kehidupan, sedangkan hijau dari pandan menandakan kesejukan dan harapan.

Penyajian jenang pun beragam, ada yang disajikan cair dalam mangkuk, ada pula yang padat dan dicetak di atas daun pisang.

Setiap daerah memiliki gaya penyajian tersendiri, tergantung tradisi setempat.

 

Jenang bukan sekadar makanan manis, melainkan warisan budaya yang mencerminkan nilai kehidupan, rasa syukur, dan semangat kebersamaan. 

Dari bahan sederhana seperti tepung, santan, dan gula merah, lahirlah sajian penuh makna yang hadir di setiap momen penting kehidupan masyarakat Indonesia.

Ketika Anda menyantap semangkuk jenang hangat, rasakanlah bahwa di balik rasa manisnya tersimpan sejarah panjang, filosofi hidup, dan cinta yang diwariskan dari generasi ke generasi.

(MG HAJAH RUBIATI)  

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved