Dosen UGM Kembangkan Alat dan Mesin Produksi Gula Semut untuk Industri Kecil dan Menengah 

Dr. Sri Rahayoe mengembangkan alat dan mesin produksi gula semut dari nira palma untuk skala industri kecil dan menengah.

Tayang:
dok UGM
INOVASI : Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Sri Rahayoe mengembangkan alat dan mesin produksi gula semut dari nira palma untuk skala industri kecil dan menengah. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Sri Rahayoe mengembangkan alat dan mesin produksi gula semut dari nira palma untuk skala industri kecil dan menengah.

Inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh proses produksi gula semut yang selama ini masih dilakukan secara manual. Padahal proses produksi gula semut cukup panjang, mulai dari pemasakan nira hingga kristalisasi dan pengeringan.

Dosen yang akrab disapa Yayuk itu mengatakan tahap evaporasi dan kristalisasi menjadi bagian paling krusial. Sebab tahapan ini sangat dipengaruhi kualitas bahan baku dan kestabilan suhu. 

"Permasalahan pengolahan gula semut secara konvensional adalah kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksi yang sulit dijaga, karena proses masih manual dan tidak terukur. Proses yang tidak terkendali menghasilkan produk dengan mutu yang tidak seragam," katanya, Senin (5/1/2026).

Berangkat dari masalah tersebut, ia dan tim peneliti pun mengembangkan inovasi berupa prototipe mesin evaporator dan mesin kristalisator putar.

Kedua alat ini dirancang untuk membantu pengendalian suhu, waktu proses, dan kemudahan pengoperasian bagi pelaku usaha. 

Baca juga: Seorang Pelajar di Bantul jadi Korban Pembacokan di Jalan Srandakan

Tentunya proses pengembangan ini menemui tantangan. Variasi kualitas nira sebagai bahan baku menjadi faktor yang memengaruhi konsistensi hasil produksi. Di sisi lain, adopsi teknologi oleh UMKM menuntut alat yang mudah digunakan dan sesuai kebiasaan kerja. 

“Tantangan paling krusial adalah memastikan teknologi yang dikembangkan mudah dioperasikan, mudah dirawat, dan dapat digunakan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan pengembangan inovasi dilakukan melalui tahapan sistematis, yang melibatkan pengguna sejak awal. Proses dimulai dari identifikasi kebutuhan di lapangan, perancangan konseptual, hingga pembuatan prototipe. Uji kinerja dilakukan di laboratorium dan dilanjutkan uji coba di lokasi mitra. 

“Kami melakukan penyempurnaan desain berdasarkan data uji, mulai dari kestabilan suhu, waktu proses, hingga aspek keselamatan kerja. Alat yang akhirnya dipakai masyarakat merupakan hasil co-creation antara riset berbasis data dan pengalaman praktis pengguna," jelasnya.

Inovasi tersebut kemudian didaftarkan sebagai paten sederhana. Berkat inovasi itu, ia meraih Bronze Winner Anugerah Diktisaintek 2025. Penghargaan ini diberikan pada kategori Paten Sederhana yang Telah Digunakan Masyarakat dalam Anugerah Riset dan Pengembangan Hilirisasi Award. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved