Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Tim UGM Teliti Fenomena Api di Rumah Warga Seyegan Gunakan Georadar, Deteksi Retakan Bawah Tanah

Tim DTGL Fakultas Teknik UGM yang diterjunkan ke lokasi berhasil mendeteksi adanya retakan di bawah tanah menggunakan teknologi georadar

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
TELITI API - Tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menurunkan alat georadar untuk meneliti fenomena teror api yang muncul sevara acak di rumah Agusyani warga Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman, senin (8/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Tim TGL Fakultas Teknik UGM diterjunkan ke rumah Agusyani di Seyegan, berhasil mendeteksi adanya retakan di bawah tanah menggunakan teknologi georadar atau geoscanner. 
  • Tim peneliti menemukan adanya sinkronisasi kuat antara posisi kemunculan titik api di permukaan dengan struktur retakan di bawah tanah.
  • Penemuan retakan bawah permukaan ini untuk sementara menjadi jawaban logis mengenai bagaimana senyawa gas bisa naik dan menyulut benda-benda di dalam rumah Agusyani. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kemunculan titik api secara acak di rumah Agusyani Mujiyanto, di dusun Kasuran, Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman masih menyimpan teka-teki.

Para peneliti dari lintas instansi masih mencoba mengungkap apa penyebab pasti fenomena langka tersebut. 

Terbaru, tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diterjunkan ke lokasi, berhasil mendeteksi adanya retakan di bawah tanah menggunakan teknologi georadar atau geoscanner. 

Pemindaian lapisan tanah ini dilakukan secara hati-hati mulai dari area ruang depan, halaman depan, ruang tengah bahkan hingga bagian belakang rumah di kawasan sekitar Sungai Nepen.

Temukan Retakan Bawah Tanah

Berdasarkan analisis sekilas di lapangan, tim peneliti menemukan adanya sinkronisasi kuat antara posisi kemunculan titik api di permukaan dengan struktur retakan di bawah tanah.

Koordinator Peneliti Lab Geofisika Eksplorasi (DTGL FT) UGM, Saptono Budi Samudro, menjelaskan alat georadar berkemampuan sensor tinggi 60 MHz berhasil menangkap pola retakan yang cukup banyak di kedalaman 15 sampai 20 meter di bawah lantai urukan dan tanah asli rumah korban.

Data yang masih bersifat sementara ini, memperlihatkan ada dugaan beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api dengan retakan di bawah rumah Agusyani. 

"Kalau melihat sekilas, belum diolah lebih lanjut, itu memang terlihat ada beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api itu dengan terlihat ada retakan di bawah, sampai ke kedalaman mungkin sekitar 15–20 meter. Jadi kalau di atas ini (tanah urukan) itu terlihat tadi di alat. Kemudian di bawah itu masih ada tanah aslinya kan, nah tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat," kata Saptono, Senin (8/6/2026). 

Pola struktur retakannya itu muncul di beberapa tempat dan relatif mengarah ke atas.

Penemuan retakan bawah permukaan ini, untuk sementara, menjadi jawaban logis mengenai bagaimana senyawa gas, yang selama ini diduga kuat sebagai pemicu terjadinya kebakaran, bisa naik dan menyulut benda-benda di dalam rumah Agusyani. 

Menurut Saptono, sifat fisik gas tidak membutuhkan ruang yang besar untuk bergerak ke permukaan, sehingga retakan sekecil apa pun dapat menjadi jalur migrasi. 

Apalagi, peneliti menemukan, pola-pola retakan tersebut berdekatan dan diindikasikan kuat berhubungan dengan titik-titik api yang muncul sebelumnya. 

Namun demikian, keberadaan retakan di lapisan bawah ini sebenarnya merupakan hal yang wajar.

Bisa diakibatkan oleh proses dinamika bumi, mengingat wilayah DI Yogyakarta berada dalam zona aktif tektonik.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved