Ketika Naskah Teater Membongkar Trauma Sosial: Membaca Eunoia Karya Whani Darmawan
Whani Darmawan mengungkapkan bahwa naskah Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee selesai ditulis pada 24 Juni 2024.
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Yoseph Hary W
Upaya itu sempat difasilitasi di Solo. Namun rencana tersebut kembali tertunda karena kondisi kesehatan sang produser yang kemudian wafat tepat pada waktu yang seharusnya menjadi jadwal pementasan.
“Semoga Pak Yeah damai dan tenteram di surga,” ujar Whani lirih.
Ingin gagasannya menemui banyak orang
Whani juga sempat menerima tawaran untuk meluncurkan buku tersebut di Taman Budaya Jawa Tengah atau Rumah Banjarsari. Namun tawaran itu ia tolak.
Menurutnya, jika diskusi hanya berlangsung di ruang komunitas teater, maka percakapan tentang naskah itu akan berhenti di lingkaran yang sama.
“Buat apa sebuah naskah lakon kalau yang memperbincangkan hanya orang-orang teater sendiri. Saya ingin cerita ini menemui banyak orang, dimiliki oleh banyak orang baik temanya, ceritanya, atau gagasannya,” kata dia.
Whani mengaku menulis naskah tersebut secara intuitif tanpa menyusun sinopsis maupun kerangka cerita secara sistematis. Ide cerita justru berawal dari dialog yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
“Saya awalnya menulis sebagai cerpen. Tapi dialognya begitu padat di kepala, akhirnya saya meninggalkan narasi dan langsung menulis dialog sampai selesai,” ungkapnya.
Ia bahkan baru memahami makna simbol-simbol dalam naskah itu setelah tulisan tersebut rampung. Salah satunya adalah penggunaan “mobil” sebagai properti dalam cerita.
“Saya baru sadar setelah naskah itu jadi. Mobil itu bisa berarti mobile, gerak, aktivitas, bahkan seperti roller coaster kehidupan,” ujarnya.
Lanjutan tradisi drama modern Indonesia
Sementara itu, Zuhdi Zang yang membedah buku tersebut menilai naskah itu memiliki posisi menarik dalam tradisi drama modern Indonesia.
Menurutnya, karya tersebut tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai drama absurd, meskipun memiliki sejumlah elemen yang mengingatkan pada tradisi teater modern Eropa seperti Samuel Beckett atau Eugene Lonesco.
“Bagi saya naskah ini justru cukup jelas. Secara gagasan, ini seperti langkah lanjut dari tradisi drama modern Indonesia yang pernah ditulis Arifin C. Noer, Putu Wijaya, atau Iwan Simatupang,” katanya.
Zuhdi melihat naskah ini mencoba meramu kegelisahan realisme sosial dengan refleksi eksistensial tentang manusia. Ia bahkan menyebut karya tersebut memiliki kedekatan dengan karya-karya seperti Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C. Noer maupun Petang di Taman karya Iwan Simatupang.
Namun menurutnya, ada hal yang cukup khas dalam naskah Whani, terutama dalam cara mengangkat persoalan kemiskinan dan trauma sosial.
Kemiskinan lahirkan trauma
Ia menilai kemiskinan dalam naskah tersebut tidak hanya hadir sebagai kondisi sosial, tetapi juga sebagai pengalaman personal yang melahirkan trauma.
Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee
Whani Darmawan
Kajian Budaya
Universitas Sanata Dharma
Diskusi Buku
Naskah
Teater
kemiskinan
Trauma
| Pemkab Magelang Benahi Data Kependudukan, Bidik Pengentasan Kemiskinan Lebih Akurat |
|
|---|
| Trauma Korban Daycare Little Aresha: Anak Minta Diikat Setelah Dimandikan |
|
|---|
| Nestapa Korban Little Aresha Daycare, Bayi 1 Tahun Didiagnosa GERD dan Alami Trauma Hebat |
|
|---|
| YUTFest 2026, Upaya Taman Budaya Yogyakarta Merawat Napas Teater di Era Gen Z |
|
|---|
| JOGJA HARI INI : Peluk Erat Orang Tua Korban Daycare |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ketika-Naskah-Teater-Membongkar-Trauma-Sosial-Membaca-Eunoia-Karya-Whani-Darmawan.jpg)