Nasib Guru Honorer

Cerita Perjalanan Panjang Guru Non-ASN Mendapat TPG Setelah 22 Tahun Mengajar

Sugeng menuturkan dirinya menjadi guru honorer di sekolah swasta pada 2004 lalu. Empat tahun kemudian, ia diangkat sebagai guru tetap

|
Freepik
JALAN PANJANG TPG - Ilustrasi guru: Mendapat Tunjangan Profesi Guru (TPG) menjadi angin segar bagi Sugeng (48). Ia adalah guru yang sudah mengabdi selama 22 tahun di sekolah swasta di Kota Yogyakarta. 

Ringkasan Berita:
  • Sugeng menuturkan dirinya menjadi guru honorer di sekolah swasta pada 2004 lalu. Empat tahun kemudian, ia diangkat sebagai guru tetap di sekolah tersebut. 
  • Sebelum diangkat menjadi guru tetap, ia mendapatkan insentif sekitar Rp 400.000. Ia mendapat insentif dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan Pemerintah Daerah DIY.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mendapat Tunjangan Profesi Guru (TPG) menjadi angin segar bagi Sugeng (48).

Ia adalah guru yang sudah mengabdi selama 22 tahun di sekolah swasta di Kota Yogyakarta.

Butuh waktu sekitar delapan tahun untuk akhirnya mendapatkan TPG.

Sugeng menuturkan dirinya menjadi guru honorer di sekolah swasta pada 2004 lalu. Empat tahun kemudian, ia diangkat sebagai guru tetap di sekolah tersebut. 

Sebelum diangkat menjadi guru tetap, ia mendapatkan insentif sekitar Rp 400.000. Ia mendapat insentif dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan Pemerintah Daerah DIY.

“Besaran insentifnya beda, karena ada guru yang tidak dapat (insentif), kemudian dipotong (insentif yang diterima) untuk teman-teman yang belum dapat. Insentifnya jadi berapa itu lupa, mendapat insentif selama tiga tahun sampai, baru 2007 dapat SK kontrak (PKWT), setelah itu baru didaftarkan menjadi pegawai, maka baru ada data ke kota (Disdik Kota Yogyakarta),” katanya, Rabu (4/3/2026). 

Dua tahun setelah menjadi pegawai tetap pada tahun 2008, ia mendapat panggilan untuk mengikuti pelatihan untuk Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Pendidikan dan pelatihan tersebut berlangsung enam bulan lamanya. Ia juga harus mengumpulkan portofolio dan berkas-berkas lainnya.

TPG pertama tahun 2010

Mengikuti pendidikan dan pelatihan pada tahun 2010 dan dinyatakan lulus PPG pada tahun 2011, Sugeng akhirnya mendapatkan TPG pertamanya pada tahun 2012. 

Kala itu, besaran TPG adalah Rp 1.500.000, namun ia hanya menerima sekitar Rp1.300.000.

“Setelah itu ya dapat TPG saja, hanya waktu itu ada penyetaraan, namanya inpassing. Tahun 2018 ada panggilan inpassing, mengumpulkan berkas, kemudian lulus. Terus kemudian disesuaikan dengan masa kerja, itu jadi Rp 3 juta (TP yang diterima),” terangnya.

Warga Sleman itu menyebut TPG awalnya tidak dibayarkan per bulan. Sebelum tahun 2026, TPG bersifat triwulanan, namun diterima pada bulan keempat atau kelima.

“Terus tahun ini ada perubahan, mulai tahun 2026 ini diterimakan per bulan. Sehingga kalau sekarang itu sudah bulan kedua, yang bulan ketiga itu nanti dihitung kalau lancar, kalau diproses di Dapodik itu sekitar tanggal 25-an, akhir bulan,” lanjutnya.

TPG butuh waktu panjang

Ia mengakui untuk mendapatkan TPG membutuhkan waktu panjang dan mengikuti serangkaian seleksi. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved