Pakar UMY Sebut Konflik AS-Venezuela Hambat Ekspansi Perdagangan Indonesia

Eskalasi konflik geopolitik di Venezuela dapat mempersempit ruang ekspansi perdagangan dan investasi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tribun Jogja/Dok. UMY
Pakar Politik Ekonomi Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Faris Al-Fadhat, Ph. D., 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Konflik antara Amerika Serikat dengan Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro disebut dapat memengaruh stabilitas kawasan Amerika Latin. 

Menurut Pakar Politik Ekonomi Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Faris Al-Fadhat, Ph. D., eskalasi konflik geopolitik tersebut dapat mempersempit ruang ekspansi perdagangan dan investasi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketidakpastian politik di Amerika Latin dinilai dapat menghambat upaya perluasan jejaring ekonomi internasional yang dilakukan Indonesia. Apalagi belakangan ini Indonesia memandang Amerika Latin sebagai pasar strategis.

“Indonesia melihat Amerika Latin sebagai future market. Karakteristik demografis, potensi konsumsi, serta struktur pasar kawasan tersebut mirip Asia Tenggara. Namun, tantangan utamanya adalah stabilitas politik kawasan tersebut,” katanya, Selasa (6/1/2026).

Ia menyebut invasi AS ke Venezuela memperkuat persepsi Amerika Latin sebagai kawasan rawan konflik dan ketidakpastian. 

Baca juga: Pakar Hukum UMY Menilai Teror terhadap Aktivis Greenpeace Ancam Demokrasi

Eskalasi ketegangan berpotensi memperburuk iklim usaha dan mempersempit ruang gerak negara-negara middle power yang tengah mencari pasar dan peluang ekonomi baru.

“Ketika Indonesia ingin meningkatkan volume perdagangan dan investasi ke kawasan tersebut, konflik seperti ini menjadi pengganggu serius. Upaya besar yang dilakukan tidak sebanding dengan jaminan keberlanjutan investasi dalam jangka panjang,” jelasnya.

Oleh karena itu, Indonesia harus bersikap lebih strategis dalam politik global, khususnya dalam membela tata kelola internasional yang berbasis aturan.

Ia menilai Indonesia harus memperkuat posisinya sebagai negara dengan kepentingan ekonomi global sekaligus komitmen terhadap stabilitas internasional.

“Di tengah konflik ini, Indonesia justru dapat mengambil leverage diplomatik dengan bersuara lebih tegas, termasuk bersama ASEAN, untuk mendorong penyelesaian konflik secara multilateral. Persoalan ini tidak boleh diselesaikan secara unilateral,” imbuhnya. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved