Selain Memperlua Pasar Baru, Disperindag DIY Masih Genjot Ekspor ke Amerika dan Eropa

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, mengatakan kondisi ekspor DIY memang tidak bisa dilepaskan dari kondisi global.

Tayang:
Tribun Jogja/IST
Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor DIY.

Untuk itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY masih berupaya menggenjot ekspor ke negara Paman Sam tersebut.

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, mengatakan kondisi ekspor DIY memang tidak bisa dilepaskan dari kondisi global.

Kondisi perekonomian di beberapa negara mitra utama DIY pun mengalami pelemahan.

"Tetapi melihat kondisi global saat ini, tentunya kita ketahui bersama bahwa hal ini sangat mempengaruhi kondisi ekspor nasional maupun DIY," katanya, Jumat (15/5/2026).

"Kondisi perekonomian di beberapa negara mitra utama DIY mengalami pelemahan, sehingga importir masih ada yang menahan permintaan barang seperti ASEAN, EROPA, Jepang Inggris dan Korea Selatan, walaupun untuk beberapa produk saat ini masih aman permintaannya, paling tidak sampai pertengahan tahun," sambungnya.

Baca juga: Hadapi Tekanan Ekonomi Global, DIY Andalkan Kinerja Industri Kreatif Menjaga Ketahanan Ekspor

Ia menyebut adanya tekanan biaya produksi karena kenaikan  harga bahan baku dan penolong untuk produksi memengaruhi pelemahan ekspor.

Tak hanya itu, biaya logistik yang melonjak turut memengaruhi ekspor DIY.

"Amerika, Australia dan Spanyol merupakan negara negara yang mampu mendongkrak nilai ekspor DIY," ujarnya.

Perluas Pasar Baru

Guna memperkuat ekspor DIY, pihaknya pun memperluas pasar, khususnya pasar baru.

Upaya perluasan pasar dilakukan melalui informasi akses pasar, busines matching maupun pelatihan ekspor.

Selain pasar baru, penguatan pada pasar Amerika dan Eropa masih menjadi fokus.

"Akan tetapi pasar Amerika dan Eropa akan tetap terus kita tingkatkan ekspornya, mengingat produk DIY yang lebih banyak produk industri kreatif dengan nilai seni tinggi, tentunya sampe saat ini kedua negara tersebut masih memberikan harga yang bagus dengan karakter yang pas dengan produk DIY," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved