Rupiah Tembus Rp 17.864 per Dollar, Disperindag DIY Beberkan Dampaknya pada Sektor Ekspor dan UMKM

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.864 per dollar, Jumat (29/5/2026), memberi dampak bervariasi terhadap sektor industri DIY

Tayang:
Tribun Jogja/IST
SOAL PELEMAHAN RUPIAH - Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.864 per dollar Amerika Serikat pada awal perdagangan Jumat (29/5/2026), memberikan dampak yang bervariasi terhadap sektor industri dan perdagangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.864 per dollar AS, Jumat (29/5/2026), memberikan dampak yang bervariasi terhadap sektor industri dan perdagangan di DIY
  • Disperindag DIY menyoroti tingkat kerentanan yang berbeda antara perusahaan skala menengah-besar dengan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
  • Menurut Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, depresiasi mata uang Garuda saat ini belum memberikan guncangan berarti bagi korporasi besar. 

 

TRIBUNJOGJA.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.864 per dollar Amerika Serikat pada awal perdagangan Jumat (29/5/2026), memberikan dampak yang bervariasi terhadap sektor industri dan perdagangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY menyoroti tingkat kerentanan yang berbeda antara perusahaan skala menengah-besar dengan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menjelaskan bahwa depresiasi mata uang Garuda saat ini belum memberikan guncangan berarti bagi korporasi besar.

Menurutnya, siklus produksi dan sistem transaksi perusahaan skala menengah-besar mampu menjadi bantalan dari fluktuasi nilai tukar.

"Bagi perusahaan ekspor impor dengan skala menengah besar, pelemahan rupiah tidak menimbulkan dampak yang signifikan. Hal ini disebabkan order sudah didapatkan dari tahun sebelumnya, sehingga tahun ini hanya tinggal pengerjaan dan pengiriman saja. Impor bahan baku juga dianggap masih aman, karena transaksi menggunakan dollar, sehingga tidak dirasakan kenaikannya," tegas Yuna, Jumat (29/5/2026).

Meski aman dari sisi bahan baku impor, Yuna menggarisbawahi adanya tantangan di sektor domestik dan logistik global. 

"Justru harga bahan baku lokal yang dianggap mengalami kenaikan, karena adanya kenaikan harga BBM dan yang lainnya. Selain harga baku, kenaikan dijumpai pada biaya pengiriman barang, mengingat perang dan kondisi global yang tidak stabil masih berlangsung," tambahnya.

Kerentanan UMKM dan Eksportir Kerajinan

Kondisi berbeda dialami oleh sektor UMKM dan produsen kerajinan. Pelemahan rupiah yang biasanya menjadi angin segar bagi eksportir, kali ini tidak sepenuhnya membawa margin keuntungan yang tinggi. Stagnasi ekonomi global menjadi faktor utama tersendatnya penambahan pesanan dari luar negeri.

Yuna merinci bahwa sektor yang paling merasakan tekanan adalah UMKM yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada komponen impor.

"Bagi perusahaan ekspor produk kerajinan, dampak pelemahan rupiah saat ini dianggap tidak terlalu menguntungkan bagi ekspor, karena beberapa perusahaan belum mendapatkan tambahan order mengingat perekonomian global yang belum membaik sehingga bisnis buyer tidak lancar. Tetapi order masih tetap ada, hanya tidak ada tambahan yang signifikan. Harga bahan baku dianggap mengalami kenaikan, sehingga walaupun diuntungkan dari penerimaan ekspornya, tetapi karena harga bahan baku dan penolong naik, jadi tetap imbang," urai Yuna.

Lebih lanjut, Yuna menyoroti pelaku usaha fesyen sebagai kelompok yang paling berisiko. 

"Sektor industri UMKM yang paling rentan adalah produk fesyen, karena sebagian bahan baku seperti kain, aksesori fesyen dan lain-lain kebanyakan dari impor, atau produk kerajinan yang menggunakan bahan baku atau bahan penolong impor," ungkapnya.

Dorong Penggunaan Bahan Baku Lokal

Merespons ketidakpastian nilai tukar ini, Disperindag DIY mendorong langkah mitigasi dan adaptasi cepat dari para pelaku usaha, khususnya di tingkat lokal. Kunci keberlangsungan UMKM saat ini berada pada efisiensi dan strategi manajerial.

"Jika pelemahan rupiah berlanjut, secara umum perdagangan ekspor tergantung dari kondisi global, jika membaik tentu saja bisa mendapatkan kenaikan ekspor. Tetapi untuk perdagangan lokal juga tergantung dari penggunaan bahan baku dan penolong. Jika UMKM bisa segera adaptasi dengan efisiensi bahan baku maupun peningkatan manajemen produksi dan pemasaran, harapannya tidak berdampak secara signifikan," jelas Yuna.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved