Dolar Tembus Rp17.500, Disperindag DIY Klaim Harga Bahan Pokok Masih Stabil

Disperindag DIY terus melakukan pemetaan dampak langsung dari pelemahan nilai tukar ini terhadap rantai pasok di wilayah Yogyakarta.

Tayang:
Tribun Jogja/R.Hanif Suryo Nugroho
ILUSTRASI - Pedagang sayuran menata barang dagangannya di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Rabu (4/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dollar AS mulai memicu kekhawatiran kenaikan harga barang kebutuhan pokok
  • Disperindag DIY mengklaim bahwa sejauh ini fluktuasi mata uang tersebut belum berdampak signifikan terhadap harga di pasar-pasar tradisional.
  • Pemda DIY juga merespons kecemasan para pedagang kecil dan pelaku UMKM yang mulai khawatir terhadap lonjakan biaya produksi. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Melemahnya nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp 17.500 per dollar AS mulai memicu kekhawatiran terkait kenaikan harga barang kebutuhan pokok, terutama komoditas yang bergantung pada bahan baku impor.

Namun, Pemda DIY melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mengklaim bahwa sejauh ini fluktuasi mata uang tersebut belum berdampak signifikan terhadap harga di pasar-pasar tradisional.

Berdasarkan pantauan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga sejumlah komoditas kunci seperti kedelai, daging sapi, dan gandum terpantau masih berada dalam koridor Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemetaan dampak langsung dari pelemahan nilai tukar ini terhadap rantai pasok di wilayah Yogyakarta.

Meski tekanan terhadap rupiah cukup kuat, kondisi di lapangan menunjukkan ketahanan pasokan yang memadai.

"Berdasarkan hasil pemantauan harga melalui SP2KP, hingga minggu ini belum terdapat kenaikan harga yang signifikan pada komoditas bahan pokok dan harga masih berada dalam koridor Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku. Meskipun terdapat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dampaknya terhadap pasar tradisional di DIY saat ini belum terlihat secara langsung khususnya pada komoditas yang memiliki ketergantungan pada bahan baku impor seperti kedelai, daging sapi, dan gandum. Disperindag DIY terus melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan stabilitas harga dan kecukupan pasokan tetap terjaga," ujar Yuna, Rabu (13/5/2026).

Selain memantau harga, pemerintah daerah juga merespons kecemasan para pedagang kecil dan pelaku UMKM yang mulai khawatir terhadap lonjakan biaya produksi. 

Baca juga: Rupiah Loyo, Kedelai Meroket: Pengrajin Tempe di Jogja Pilih Kecilkan Ukuran ketimbang Naikkan Harga

Langkah Intervensi

Untuk melindungi margin keuntungan pedagang sekaligus menjaga daya beli masyarakat, Disperindag DIY telah menyiapkan serangkaian langkah intervensi konkret.

Langkah tersebut mencakup penguatan stok melalui kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pangan untuk memastikan distribusi barang tidak terganggu oleh sentimen pasar global.

"Sebagai langkah antisipasi, Disperindag DIY secara konsisten melaksanakan operasi pasar dan pasar murah yang didukung melalui APBD. Selain itu, Disperindag DIY juga bersinergi dengan BUMN pangan, khususnya BULOG dan ID FOOD, melalui dropping komoditas seperti Minyakita guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan di pasar rakyat. Langkah ini diharapkan mampu menjaga margin usaha pedagang sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat," tegas Yuna.

Tekanan eksternal, termasuk sentimen rebalancing indeks MSCI dan eskalasi geopolitik global, diakui menjadi tantangan berat bagi volatilitas rupiah dalam jangka menengah.

Menanggapi hal tersebut, Disperindag DIY memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia Perwakilan DIY dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Sinergi ini bertujuan untuk melakukan evaluasi rutin dan pemetaan risiko agar inflasi daerah tetap terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Untuk mengantisipasi tekanan eksternal yang dapat berdampak pada volatilitas harga, Disperindag DIY terus aktif dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY (termasuk didalamnya Bank Indonesia Perwakilan DIY, serta instansi terkait lainnya). Melalui koordinasi ini dilakukan evaluasi kondisi harga, pemetaan potensi risiko inflasi, dan penyusunan langkah strategis guna menjaga kestabilan harga barang kebutuhan pokok di DIY," pungkas Yuna.

Hingga saat ini, Disperindag DIY mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi borong (panic buying) karena stok bahan pangan dipastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir kuartal ini. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved